Kerajaan Sriwijaya
merupakan sebuah kerajaan besar yang terletak di Sumatera Selatan. Menurut para
ahli, pusat Kerajaan Sriwijaya ada di Palembang dan diperkirakan telah berdiri
pada abad ke-7 M. Sumber sejarah kerajaan Sriwijaya berupa prasasti dan berita
Cina. Sumber yang berupa prasasti terdiri atas dua, yaitu prasasti yang berasal
dari dalam negeri dan prasasti yang berasal dari luar negeri.
Prasasti yang berasal dari
dalam negeri antara lain: prasasti Kedukan Bukit (683 m), Talang Tuwo (684 m),
Telaga Batu (683), Kota Kapur (686), Karang Berahi (686), Palas Pasemah dan
Amoghapasa (1286). Sementara itu, prasasti yang berasal dari luar negeri antara
lain; Ligor (775), Nalanda, Piagam Laiden, Tanjore (1030 M), Canton (1075 M),
Grahi (1183 M) dan Chaiya (1230).
Begitu pula sumber naskah dan buku yang berasal dari dalam negeri adalah kitab Pararaton, sedangkan dari luar negeri antara lain kitab memoir dan record karya I-Tsing, Kronik dinasti Tang, Sung, dan Ming, kitab Lingwai-tai-ta karya Chou-ku-fei dan kitab Chu-fon-chi karya Chaou- fu hua.
Begitu pula sumber naskah dan buku yang berasal dari dalam negeri adalah kitab Pararaton, sedangkan dari luar negeri antara lain kitab memoir dan record karya I-Tsing, Kronik dinasti Tang, Sung, dan Ming, kitab Lingwai-tai-ta karya Chou-ku-fei dan kitab Chu-fon-chi karya Chaou- fu hua.
Para sejarawan masih
berbeda pendapat tentang Sriwijaya yaitu awal berkembang dan berakhirnya serta
lokasi ibu kotanya. Menurut Coedes, Sriwijaya berkembang pada abad ke-7 di
Palembang dan runtuh pada abad ke-14. Pendapatnya didasarkan pada ditemukannya
toponim Shih Li Fo Shih dan San Fo Tsi. Menurutnya Shih Li Fo Shih merupakan
perkataan Cina untuk menyebut Sriwijaya.
Sementara
itu, San Fo Tsi yang ada pada sumber Cina dari abad ke-9 sampai dengan abad
ke-14 merupakan kependekan dari Shih Li Fo Shih. Slamet Mulyana berpendapat
lain, dia setuju dengan pendapat Coedes yang menganggap bahwa Shih Li Fo Shih
adalah Sriwijaya, namun San Fo Tsi tidak sama dengan Shih Li Fo Shih.
Menurutnya Sriwijaya berkembang sampai abad ke-9, dan sejak itu Sriwijaya
berhasil ditaklukkan oleh San Fo Tsi (Swarnabhumi).
Mengenai
ibu kota Sriwijaya, para ahli mendasarkan pendapatnya pada daerah yang
disebutkan dalam prasasti Kedukan Bukit yaitu Minanga. Prasasti Kedukan Bukit
berangka tahun 604 saka (682 M) ditemukan di daerah Kedukan Bukit, di tepi
Sungai Tatang, dekat Palembang.
Adapun
isi prasasti Kedukan Bukit, adalah sebagai berikut:
Pada tahun saka 605 hari kesebelas
bulan terang bulan waiseka dapunta hyang naik di perahu mengadakan perajalanan
pada hari ketujuh bulan terang. Bulan jyestha dapunta hyang berangkat dari
minanga. Tambahan beliau membawa tentara dua laksa (20.000), dua ratus koli di
perahu, yang berjalan darat seribu, tiga ratus dua belas banyaknya datang di
mukha upang, dengan senang hati, pada ghari kelima bulan terang bulan asada,
dengan lega gembira datang membuat wanua ... . perajalanan jaya sriwijy
memberikan kepuasan.
Poerbacaraka berpendapat bahwa Minanga adalah pertemuan antara
sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri, sehingga beliau berpendapat bahwa ibu kota
Sriwijaya adalah di Minangkabau. Muhammad Yamin mengartikan Minanga Tanwan
adalah air tawar dan Sriwijaya ibu kotanya terletak di Palembang. Bukhori berpendapat sama
dengan Muhammad Yamin bahwa ibu kota Sriwijaya terletak di sekitar daerah
Palembang.
Prasasti Kedukan Bukit
isinya menceritakan bahwa pada tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682), Raja
Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang naik perahu memimpin operasi militer.
Lalu pada tanggal 7 paro terang bulan Jesta (19 Mei) Dapunta Hyang berangkat
dari Minanga Tamwan untuk kembali ke ibu kota. Mereka bersukacita karena pulang
dengan kemenangan. Pada tangga 5 Asada (16 Juni) mereka tiba di Muka Upang
(sebelah timur Palembang). Sesampai di ibu kota, Dapunta Hyang memerintahkan
pembuatan bangunan suci sebagai tanda rasa syukur.
Prasasti Ligor A (775)
ditemukan di Muangthai selatan
“Pujian terhadap raja
Sriwijaya yang di ibaratkan bagai Mnu yang memberi berkah bagi dunia menyerupai
Indra dan semua raja tetangga taat kepadanya ditulis pula pendirian sebuah
bangunan batu trisamayacahtya untuk padma, pani, sakyamuni, dan wajrpani”.
Prasasti Ligor B,
Pujian bagi raja yang
berhasil menaklukkan musuh-musuhnya dan merupakan wujud kembar dewa kasta yang
dengan kekuatannya disebut (sebagai dewa) Wisnu, kedua mematahkan keangkuhan
semua musuhnya (Sarwarimadawimthana). Ia adalah keturunan dari (keluarga
Syailendra) yang tersohor disebut Srimaharaja.”
Prasasti Ligor yang
ditemukan di semenanjung tanah Melayu menceritakan tentang Raja Sriwijaya dan
pembangunan trisamayacaithya untuk menyembah dewa-dewa agama Buddha, serta
menyebutkan seorang raja bernama Wisnu dengan gelar Sarwarimadawimathana atau
pembunuh musuh-musuh yang sombong tiada bersisa. Begitu pula prasasti Nalanda
yang dikeluarkan oleh Raja Dewa Paladewa. Isinya menyebutkan tentang pendirian
bangunan biara di Nalanda oleh Raja Balaputradewa, Raja Sriwijaya yang menganut
agama Buddha.
Daerah kekuasaan Sriwijaya
meliputi seluruh Sumatra, sebagian Jawa, Semenanjung Malaya, dan Muangthai
Selatan. Dengan menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa, Kerajaan
Sriwijaya menguasai jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan internasional.
Untuk itu penghasilan negara Sriwijaya terutama diperoleh dari perdagangan
(komoditas ekspor dan bea cukai kapal-kapal yang singgah di wilayah Sriwijaya).
Jadi, kerajaan ini lebih menitikberatkan pada bidang maritim dan
perdagangan.
Sejak pertengahan abad
ke-9, Sriwijaya diperintah oleh Dinasti Syailendra. Hal ini dinyatakan dalam
prasasti Nalanda di India, yang menguraikan permintaan Raja Balaputradewa dari
Sriwijaya kepada Raja Dewapaladewa dari Benggala untuk mendirikan wihara di
Nalanda pada tahun 860.
Disebutkan juga dalam prasasti itu, bahwa Balaputradewa adalah putra Samaragrawira, yaitu raja Jawa dari Dinasti Syailendra. Prasasti kota kapur (686 M) isinya tentang cerita peperangan dan sumpah atau kutukan bagi orang-orang yang melanggar peraturan dan kehendak penguasa. Adapun yang lebih menarik tentang isi prasasti ini, ialah bagian terakhir yang berbunyi:
Disebutkan juga dalam prasasti itu, bahwa Balaputradewa adalah putra Samaragrawira, yaitu raja Jawa dari Dinasti Syailendra. Prasasti kota kapur (686 M) isinya tentang cerita peperangan dan sumpah atau kutukan bagi orang-orang yang melanggar peraturan dan kehendak penguasa. Adapun yang lebih menarik tentang isi prasasti ini, ialah bagian terakhir yang berbunyi:
“Tahun saka 608 hari
pertama bulan terang bulan waisaka, itulah waktunya sumpah ini dipahat, pada
waktu itu tentara Sriwijaya berangkat tanah Jawa karena tidak mau tunduk kepada
Sriwijaya.”
Dari prasasti tersebut
dapat ditarik kesimpulan bahwa Sriwijaya pernah ada upaya untuk menaklukkan
Jawa. Para ahli menerangkan bahwa kerajaan di Jawa yang ditaklukkan adalah
Tarumanegara. Hubungan dengan India tidak bertahan lama, sebab pada awal abad
ke-11 Raja Rajendracola dari Kerajaan Colamandala melakukan penyerbuan
besar-besaran ke wilayah Sriwijaya, antara lain Kedah, Aceh, Nikobar, Binanga,
Melayu, dan Palembang. Berita penyerangan tersebut ada dalam prasasti Tanjore
di India Selatan.
Tetapi, penyerbuan
Colamandala dapat dipukul mundur atas bantuan Raja Airlangga dari Jawa Timur.
Atas jasanya ini, Airlangga dinikahkan dengan Sanggramawijayatunggadewi, putri
Raja Sriwijaya. Kekuatan Sriwijaya mulai menurun setelah berhasil memukul
mundur pasukan Colamandala.
Menurunnya kekuatan itu dapat terlihat dari ketidakmampuannya mengawasi dan memberi perlindungan bagi pelayaran dan perdagangan yang ada di perairan Indonesia. Keadaan itu dimanfaatkan juga oleh kerajaan-kerajaan vasal (bawahan) untuk melepaskan diri dari kekuasaan Sriwijaya, seperti yang dilakukan oleh kerajaan Malayu (Jambi). Prasasti Tanjore (1030) yang dikeluarkan oleh Rjendra berisi
Menurunnya kekuatan itu dapat terlihat dari ketidakmampuannya mengawasi dan memberi perlindungan bagi pelayaran dan perdagangan yang ada di perairan Indonesia. Keadaan itu dimanfaatkan juga oleh kerajaan-kerajaan vasal (bawahan) untuk melepaskan diri dari kekuasaan Sriwijaya, seperti yang dilakukan oleh kerajaan Malayu (Jambi). Prasasti Tanjore (1030) yang dikeluarkan oleh Rjendra berisi
Tentara
Colal melakukan serangan dua kali ke beberapa negeri diantaranya ke Sriwijaya,
pertama tahun 1015 dan kedua 1025. Pada serangan kedua berhasil menawan rajanya
yang bernama Sri Sangramwijaya Tunggawarman, setelah meminta maaf, dia
ditakhtakan kembali.Sementara itu, prasasti Wirarajendra, yang dikeluarkan oleh
Raja Cola (1068), berisikan bahwa pasukan Cola menyerang kembali Sriwijaya
tahun 1067. Selanjutnya pada abad ke-13 dan ke-14, kebesaran Sriwijaya tidak
pernah disebut-sebut lagi dalam sumber-sumber sejarah. Jadi, kapan Kerajaan
Sriwijaya mengalami keruntuhan ? Menurut catatan Cina, utusan Sriwijaya
terakhir datang ke Cina pada tahun 1178. Selain itu, pada catatan Chufan-chi
yang ditulis oleh Chau Ju Kua tahun 1225 disebutkan bahwa Palembang (ibu kota
Sriwijaya) telah menjadi negeri taklukan Malayu.
Kerajaan
Sriwijaya adalah salah satu kerajaan terbesar di Indonesia pada masa silam.
Kerajaan Sriwijaya mampu mengembangkan diri sebagai negara maritim yang pernah
menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan internasional selama
berabad-abad dengan menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa. Setiap
pelayaran dan perdagangan dari Asia Barat ke Asia Timur atau sebaliknya harus
melewati wilayah Kerajaan Sriwijaya yang meliputi seluruh Sumatra, sebagian
Jawa, Semenanjung Malaysia, dan Muangthai Selatan.
Keadaan ini juga yang membawa penghasilan Kerajaan Sriwijaya terutama diperoleh dari komoditas ekspor dan bea cukai bagi kapal-kapal yang singgah di pelabuhan-pelabuhan milik Sriwijaya. Komoditas ekspor Sriwijaya antara lain kapur barus, cendana, gading gajah, buah-buahan, kapas, cula badak, dan wangi-wangian.
Keadaan ini juga yang membawa penghasilan Kerajaan Sriwijaya terutama diperoleh dari komoditas ekspor dan bea cukai bagi kapal-kapal yang singgah di pelabuhan-pelabuhan milik Sriwijaya. Komoditas ekspor Sriwijaya antara lain kapur barus, cendana, gading gajah, buah-buahan, kapas, cula badak, dan wangi-wangian.
Prasasti
Amoghpasha (1286) berbunyi
“Pada
tahun saka 1208 .....tatkala itulah arca paduka amoghappasa lokeswara dengan
empat belas pengikutnya serta tujuh ratna permata dibawa dari bhumi Jawa ke
suwarnabhumi supaya ditegakan. Sumber sejarah lain mengenai Kerajaan
Sriwijaya dapat dilihat dari berita Cina. Berita itu datang dari seorang
pendeta yang bernama I-Tsing yang pada tahun 671 berdiam di Sriwijaya untuk
belajar tata bahasa Sanskerta sebagai persiapan kunjungannya ke India. I-Tsing
menyebutkan bahwa di negeri Sriwijaya dikelilingi oleh benteng. Di negeri ini
ada seribu orang pendeta yang belajar agama Buddha.
Seperi halnya di India,
para pendeta Cina yang mau belajar agama ke India dianjurkan untuk belajar
terlebih dahulu di Sriwijaya selama satu sampai dua tahun. Disebutkan juga
bahwa para pendeta yang belajar agama Buddha di Sriwijaya dibimbing oleh
seorang guru yang sangat terkenal bernama Sakyakirti. Berdasarkan berita
I-Tsing dapat disimpulkan bahwa kerajaan Sriwijaya sejak abad ke-7 M merupakan
pusat kegiatan ilmiah agama Buddha di Asia Tenggara.
Prasasti Nalanda berisi
tentang pembebasan tanah untuk pendirian sebuah biara atas permintaan raja
Swarnadiva, Balaputradewa, cucu raja Jawa berjuluk Wirawairimathana, yang
berputra Samaargrawira yang menikahi putri Raja Dharmasetu. Dari
prasasti-prasasti tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa raja sangat
memperhatikan dunia pendidikan dalam memajukan dan mengembangkan kerajaannya.
Pendidikan yang berbasis pengajaran agama Buddha disatu sisi telah membawa
corak kehidupan yang khas pada masyarakat Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya
merupakan pusat agama Buddha di Asia Tenggara. Hal itu dibuktikan dengan
banyaknya biksu yang terdapat di Sriwijaya beserta pusat pendidikannya.
Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan, bahwa penduduk yang beragama
Hindu terdapat pula di Sriwijaya.
Prasasti Talang Tuo isinya menyebutkan tentang pembuatan kebun Sriksetra atas perintah Dapunta Hyang Sri Jayanasa sebagai suatu pranidhana (na ar). Di samping itu, terdapat doa dan harapan yang menunjukkan sifat agama Buddha. Sebaliknya, prasasti Karang Berahi, prasasti Telaga Batu, dan prasasti Palas Pasemah umumnya berisi doa, kutukan, dan ancaman terhadap orang yang melakukan kejahatan dan tidak taat pada peraturan Raja Sriwijaya.
Prasasti Talang Tuo isinya menyebutkan tentang pembuatan kebun Sriksetra atas perintah Dapunta Hyang Sri Jayanasa sebagai suatu pranidhana (na ar). Di samping itu, terdapat doa dan harapan yang menunjukkan sifat agama Buddha. Sebaliknya, prasasti Karang Berahi, prasasti Telaga Batu, dan prasasti Palas Pasemah umumnya berisi doa, kutukan, dan ancaman terhadap orang yang melakukan kejahatan dan tidak taat pada peraturan Raja Sriwijaya.
Kerajaan
Kutai
Kerajaan
Kutai terletak di dekat Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Keberadaan kerajaan
ini dapat diketahui dari tujuh buah prasasti (Yupa) yang ditemukan di
Muarakaman, tepi Sungai Mahakam. Prasasti yang berbentuk yupa itu menggunakan
huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta.
Menurut
para ahli, diperkirakan kerajaan Kutai dipengaruhi oleh kerajaan Hindu di India
Selatan. Perkiraan itu didasarkan dengan membandingkan huruf di Yupa dengan
prasasti-prasasti di India. Dari bentuk hurufnya, prasasti itu diperkirakan
berasal dari abad ke-5 M. Apabila dibandingkan dengan prasasti di Tarumanegara,
maka bentuk huruf di kerajaan Kutai jauh lebih tua.
Berdasarkan
salah satu isi prasasti Yupa, kita dapat mengetahui nama-nama raja yang pernah
memerintah di Kutai, yaitu Kundungga, Aswawarman dan Mulawarman. Prasasti
tersebut adalah:
“Srinatah
sri-narendrasya, kundungasya mahatmanah, putro svavarmmo vikhyatah,
vansakartta yathansuman, Tasya putra mahatmanah, tryas
traya ivagnayah, tesn traynam prvrah, tapobala-damanvitah, sri
mulavarmma rajendro,yastva bahusuvarunakam, tasya yjnasya yupo ‘yam,
dvijendarais samprakalpitah.
(Sang maharaja Kundungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang
masyhur, sang Aswawarman yang seperti ansuman, sang Aswawarman mempunyai
tiga putra yang seperti api yang suci. Yang paling terkemuka ialah
sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Dia
melaksanakan selamatan dengan emas yang banyak. Untuk itulah Tugu batu ini
didirikan)
Kehidupan ekonomi di
kerajaan Kutai tergambar dalam salah satu prasasti, yang isinya, seperti
berikut ini.
(Tugu ini
ditulis untuk (peringatan) dua (perkara) yang telah disedekahkan oleh sang
Mulawarman yakni segunung minyak, dengan lampu dan malai bunga)
Dari Isi Yupa di atas, kita
dapat menemukan beberapa benda yang disedekahkan yaitu minyak, lampu, dan malai
bunga. Sedekah dari raja kepada Brahmana pasti dalam jumlah yang besar. Untuk
itu, diperlukan jumlah minyak, lampu dan malai bunga yang banyak. Benda-benda
itu didapatkan dalam jumlah yang banyak jika ada upaya untuk
memperbanyaknya.
Adanya minyak dan bunga malai, kita dapat menyimpulkan bahwa sudah ada usaha dalam bidang pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Kutai. Sementara itu, lampu-lampu tersebut dihasilkan dari usaha dibidang kerajinan dan pertukangan. Hal ini menunjukkan bahwa kedua bidang usaha tersebut sudah berkembang di lingkungan masyarakat Kutai.
Adanya minyak dan bunga malai, kita dapat menyimpulkan bahwa sudah ada usaha dalam bidang pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Kutai. Sementara itu, lampu-lampu tersebut dihasilkan dari usaha dibidang kerajinan dan pertukangan. Hal ini menunjukkan bahwa kedua bidang usaha tersebut sudah berkembang di lingkungan masyarakat Kutai.
Begitu pula pada prasasti
yang lain, berisikan sebagai berikut.
Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka telah memberi
sedekah 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana yang seperti api.
Bertempat didalam tanah yang sangat suci Waprakeswara, buat peringatan akan
kebaikan didirikan Tugu ini)
Kehidupan ekonomi yang
dapat disimpulkan dari prasasti tersebut adalah keberadaan sapi yang
dipersembahkan oleh Raja Mulawarman kepada Brahmana. Keberadaan sapi
menunjukkan adanya usaha peternakan yang dilakukan oleh rakyat Kutai. Arca-arca
yang ditemukan oleh para arkeolog menunjukkan bahwa arca tersebut bukan berasal
dari Kalimantan, tetapi berasal dari India. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa sudah ada hubungan antara Kutai dan India, terutama hubungan dagang.
Pada Yupa diketemukan
sebuah nama yaitu Kundungga yang tidak dikenal dalam bahasa India. Dengan
demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa nama tersebut merupakan nama asli
daerah tersebut. Namun masih dalam yupa yang sama dijelaskan bahwa Kundungga
mempunyai anak yang bernama Aswawarman yang mempunyai putra pula bernama
Mulawarman.
Dua nama terakhir merupakan
nama yang mengandung unsur India, berbeda dengan nama Kundungga. Baik
Kundungga, Aswawarman maupun Mulawarman merupakan raja-raja di Kutai, namun
dari nama mereka dapat menunjukkan bahwa pengaruh Hindu pada keluarga kerajaan
itu sudah mulai masuk pada masa Kundungga, meskipun baru menguat pada masa
Aswawarman.
Bukti kebudayaan Hindu
sudah mulai masuk pada masa Kundungga dapat dibuktikan dengan diberikannya nama
Hindu kepada anaknya. Namun pendapat itu bisa saja tidak tepat, jika Aswawarman
yang mengganti namanya sendiri, dan bukan oleh ayahnya melalui upacara
vrtyastoma.
Vrtyastoma adalah upacara penyucian diri dalam agama Hindu. Upacara vrtyastoma digunakan oleh orang-orang Indonesia yang terkena pengaruh Hindu untuk masuk ke dalam kasta tertentu sesuai dengan kedudukan asalnya, dan setelah upacara ini diadakan, biasanya disusul dengan pergantian nama.
Vrtyastoma adalah upacara penyucian diri dalam agama Hindu. Upacara vrtyastoma digunakan oleh orang-orang Indonesia yang terkena pengaruh Hindu untuk masuk ke dalam kasta tertentu sesuai dengan kedudukan asalnya, dan setelah upacara ini diadakan, biasanya disusul dengan pergantian nama.
Berdasarkan isi prasasti
itu pula dapat diketahui bahwa masyarakat di Kerajaan Kutai memeluk agama
Hindu. Hal itu dapat dilihat dari prasasti yang menyebutkan tempat suci yaitu
Waprakeswara, yaitu
tempat suci yang dihubungkan dengan Dewa Wisnu. Dengan demikian, kita dapat
menyimpulkan
bahwa agama Hindu merupakan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Kutai.
Agama yang dianut di Kutai yaitu agama Hindu aliran pemuja Siwa yang diduga berasal dari India Selatan, dengan bukti adanya huruf Pallawa yang digunakan di India Selatan, serta penggunaan nama Warman yang merupakan kebiasaan dari India Selatan.
Agama yang dianut di Kutai yaitu agama Hindu aliran pemuja Siwa yang diduga berasal dari India Selatan, dengan bukti adanya huruf Pallawa yang digunakan di India Selatan, serta penggunaan nama Warman yang merupakan kebiasaan dari India Selatan.
Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan tertua di Pulau Jawa yang
dipengaruhi agama dan kebudayaan Hindu. Letaknya di Jawa Barat dan diperkirakan
berdiri kurang lebih abad ke 5 M. Raja yang memerintah pada saat itu adalah
Purnawarman. Ia memeluk agama Hindu dan menyembah Dewa Wisnu.
Sumber sejarah
mengenai Kerajaan Tarumanegara dapat diketahui dari prasasti-prasasti yang
ditinggalkannya dan berita-berita Cina. Prasasti yang telah ditemukan sampai
saat ini ada 7 buah. Berdasarkan prasasti inilah dapat diketahui bahwa kerajaan
ini mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan Hindu.
Prasasti itu
menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Dengan demikian, Kerajaan
Tarumanegara seperti halnya Kerajaan Kutai mendapat pengaruh dari Kerajaan
Hindu yang ada di India Selatan.
Prasasti itu
menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Dengan demikian, Kerajaan
Tarumanegara seperti halnya Kerajaan Kutai mendapat pengaruh dari Kerajaan
Hindu yang ada di India Selatan.
Prasasti-prasasti
peninggalan Kerajaan Tarumanegara berdasarkan tempat penemuannya, antara lain
sebagai berikut.
1) Prasasti
Ciaruteun (Ciampea), ditemukan di tepi Sungai Ciaruteun (Bogor) dekat muaranya
dengan Cisadane.
2) Prasasti
Pasir Jambu (Koleangkak), ditemukan di daerah perkebunan Jambu sekitar 30 km
sebelah barat Bogor.
3) Prasasti
Kebon Kopi, ini terletak di Kampung Muara Hilir, Cibungbulang (Bogor). Ditulis
dalam bentuk puisi Anustubh.
4) Prasasti
Pasir Awi dan Prasasti Muara Cianten. Kedua prasasti ini menggunakan aksara
yang berbentuk ikal yang belum dapat di baca, ditemukan di Bogor.
5) Prasati
Tugu, ditemukan di daerah Tugu (Jakarta). Prasasti ini merupakan prasasti
terpanjang dari semua prasasti peninggalan Raja Purnawarman. Prasasti ini
berbentuk puisi Anustubh. Tulisannya dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang
secara melingkar.
6) Prasasti Cidanghiang
atau Prasasti Lebak, ditemukan di tepi Sungai Cidanghiang, Kecamatan Munjul,
Lebak (Banten).
Sumber lain yang
menerangkan tentang Kerajaan Tarumanegara dapat dilihat dari berita Cina berupa
catatan perjalanan seorang penjelajah Cina bernama Fa-Hien pada awal abad ke-5
M. Dalam bukunya Fa-Kuo-Chi, ia membuat catatan bahwa di Ye-Po-Ti banyak dijumpai
orang-orang Brahmana dan mereka yang beragama kotor atau buruk dan sedikit
sekali dijumpai orang yang beragama Buddha. Menurut para ahli yang dimaksud
Ye-Po-Ti adalah Jawadwipa atau Pulau Jawa atau Tarumanegara. Berita Cina
lainnya berasal dari catatan Dinasti Sui, yang menerangkan bahwa telah datang
utusan dari To-lo-mo (Taruma) untuk menghadap Kaisar di negeri Cina pada tahun
528, 535, 630, dan 669. Sesudah itu, nama To-lo-mo tidak terdengar lagi.
Berdasarkan sumber-sumber
sejarah tersebut, baik prasasti maupun berita-berita dari Cina, dapatlah
diperoleh gambaran bahwa kehidupan kerajaan Tarumanegara pada masa itu.
Berdasarkan prasasti Tugu dapat diketahui mata pencaharian penduduknya, yaitu
pertanian dan perdagangan. Begitu pula berdasarkan berita dari Fa-Hien awal
abad ke 5, diketahui bahwa mata pencaharian penduduk Tarumanegara adalah
pertanian, peternakan, perburuan binatang, dan perdagangan cula badak, kulit
penyu dan perak. Prasasti Tugu, ditemukan di daerah Tugu (Jakarta) merupakan
prasasti terpanjang dari semua prasasti peninggalan Raja Purnawarman.
"kuat buat
mengalirkannya ke laut, setelah sampai di istana yang termasyhur, didalam tahun
keduapuluh duanya dari takhta raja Purnawarman yang berkilau-kilau karena
kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji segala raja. Sekarang
beliau menitahkan menggali sungai yang permai dan jernih, gomati namanya,
setelah melewati kediaman sang pendeta nenkda, pekerjaan ini dimulai pada
tanggal 9 paro petang bulan, pulaguna dan disudahi tanggal 13 paro terang bulan
citra, jadi hanya 21 saja, sedangkan galian panjangnya 6.122 tumbak. Selamatan
baginya oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”.
Dari
prasasti tersebut dapat disimpulkan bahwa Raja sangat memperhatikan kondisi
perekonomian masyarakatnya. Penggalian sungai Chandrabhaga sepanjang 12 km yang
berlangsung selama 21 hari itu dimaksudkan untuk kepentingan pengairan
pertanian, pencegah banjir, dan sebagai sarana transportasi dari pesisir pantai
ke pedalaman.
Berdasarkan
sumber yang ada, diperkirakan masyarakat Tarumanegara terdiri atas golongan
istana dan masyarakat biasa. Termasuk ke dalam golongan istana, yaitu para
Brahmana, raja dan keluarganya, para ksatria (prajurit), dan para pegawai
kerajaan. Adapun yang termasuk ke dalam golongan rakyat biasa, yaitu para
pedagang, petani, dan peternak. Hubungan antara raja dan rakyat sangat
harmonis. Hal ini tampak pada perhatian raja terhadap ekonomi masyarakatnya.
Berdasarkan
prasasti-prasasti yang ditemukan, bahwa kepercayaan Hindu-Buddha sangat berakar
kuat di kerajaan ini. Perkembangan agama Hindu sangat baik, hal ini ditandai
dengan hubungan yang erat antara raja dan Brahmana. Dengan demikian, agama
Hindu memberikan nilai-nilai terhadap kehidupan
kerajaan. Sementara itu, berita dari Fa Hsien dijelaskan bahwa penganut agama
Buddha sangat sedikit dibanding dengan agama Hindu.
Kerajaan
Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno
dikenal sebagai kerajaan yang toleran dalam hal beragama. Sebab, di Kerajaan
Mataram Lama berkembang agama Buddha dan Hindu secara berdampingan. Kerajaan
ini diperintah oleh dua dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dan
Dinasti Syailendra yang beragama Buddha.
Berdasarkan interpretasi terhadap prasasti-prasasti bahwa kedua dinasti itu saling bersaing berebut pengaruh dan kadang-kadang memerintah bersama-sama. Asal usul Dinasti Sanjaya tercantum dalam prasasti Canggal (732 M) yang menyebutkan bahwa Sanjaya adalah keponakan Sanna (anak dari Sannaha). Dinasti Syailendra sendiri tercantum dalam prasasti Sojomerto (tidak berangka tahun), isinya menceritakan tentang Dapuntahyang Syailendra.
Berdasarkan interpretasi terhadap prasasti-prasasti bahwa kedua dinasti itu saling bersaing berebut pengaruh dan kadang-kadang memerintah bersama-sama. Asal usul Dinasti Sanjaya tercantum dalam prasasti Canggal (732 M) yang menyebutkan bahwa Sanjaya adalah keponakan Sanna (anak dari Sannaha). Dinasti Syailendra sendiri tercantum dalam prasasti Sojomerto (tidak berangka tahun), isinya menceritakan tentang Dapuntahyang Syailendra.
Berdasarkan Prasasti
Canggal (732 M), terletak di atas Gunung Wukir, Kecamatan Salam Magelang,
diketahui bahwa raja pertama dari Dinasti Sanjaya adalah Sanjaya yang
memerintah di ibu kota bernama Medang. Prasasti itu juga menceritakan tentang
pendirian sebuah lingga (lambang dewa Syiwa) di atas bukit di wilayah
Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya pada tanggal 6 Oktober 732.
Disebutkan juga tentang
Pulau Jawa yang subur dan banyak menghasilkan gandum atau padi dan kaya akan
tambang emas, yang mula-mula diperintah oleh Raja Sanna. Setelah Raja
Sanna meninggal, ia digantikan oleh Raja Sanjaya, anak saudara perempuan Raja
Sanna. Raja Sanjaya adalah seorang raja yang gagah berani yang telah
menaklukkan raja di sekelilingnya dan menjadikan kemakmuran bagi rakyatnya .
Menurut Carita Parahyangan (buku sejarah Pasundan), disebutkan Sanna berasal
dari Galuh (Ciamis).
Selain prasasti Canggal,
ada juga prasasti Kalasan (778 M) yang terdapat di sebelah timur Yogyakarta.
Dalam prasasti itu disebutkan Raja Panangkaran dengan nama Syailendra Sri
Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Hal itu menunjukkan bahwa raja-raja
keturunan Sanjaya termasuk keluarga Syailendra.
Prasasti Kedu ( Prasasti
Mantyasih ) berangka tahun 907 M mencantumkan silsilah raja-raja yang
memerintah di Kerajaan Mataram. Prasasti Kedu dibuat pada masa Raja Rakai Dyah
Balitung. Adapun silsilah raja-raja yang pernah memerintah di Mataram yaitu
sebagai berikut.
1. Rakai Mataram Sang Ratu
Sanjaya
2. Sri Maharaja Rakai
Panangkaran
3. Sri Maharaja Rakai
Panunggalan
4. Sri
Maharaja Rakai Warak
5. Sri
Maharaja Rakai Garung
6. Sri
Maharaja Rakai Pikatan
7. Sri
Maharaja Rakai Kayuwangi
8. Sri
Maharaja Rakai Watuhumalang
9. Sri
Maharaja Rakai Dyah Balitung.
Menurut
prasasti Kedu dapat diketahui bahwa Raja Sanjaya digantikan oleh Rakai
Panangkaran. Selanjutnya salah seorang keturunan raja Dinasti Syailendra yang
bernama Sri Sanggrama Dhananjaya berhasil menggeser kekuasaan Dinasti Sanjaya
yang dipimpin Rakai Panangkaran pada tahun 778. Sejak saat itu, Kerajaan
Mataram dikuasai sepenuhnya oleh Dinasti Syailendra.
Tahun
778 sampai dengan tahun 856 sering disebut sebagai pemerintahan selingan.
Sebab, antara Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya silih berganti berkuasa.
Dinasti Syailendra yang beragama Buddha mengembangkan Kerajaan Mataram Lama
yang berpusat di Jawa Tengah bagian selatan, sedangkan Dinasti Sanjaya yang beragama
Hindu mengembangkan kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah bagian Utara.
Puncak
kejayaan Dinasti Sanjaya terjadi pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung yang
menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia mendirikan candi Prambanan dan Loro
Jonggrang menurut model candi-candi Syailendra. Masa pemerintahan raja-raja
Mataram setelah Dyah Balitung tidak terlalu banyak sumber yang menceritakannya.
Yang dapat diketahui adalah nama-nama raja yang memerintah, yakni, Daksa
(913-919), Wawa (919-924), Tulodhong (924-929), sampai Mpu Sindok pada tahun
929 M memindahkan ibu kota kerajaan dari Medang ke Daha (Jawa Timur) dan
mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti Isanawangsa.
Raja-raja
wangsa Sanjaya, seperti dimuat dalam prasasti Mantyasih (Kedu), sebagai
berikut.
1) Rakai Mataram Sang Ratu
Sanjaya (717 – 746 M)
Raja ini adalah pendiri
Kerajaan Mataram sekaligus pendiri wangsa Sanjaya. Setelah wafat, ia digantikan
oleh Rakai Panangkaran.
2) Sri Maharaja Rakai
Panangkaran (746 – 784 M)
Dalam prasasti Kalasan (778
M) diceritakan bahwa Rakai Panangkaran (yang dipersamakan dengan Panamkaran
Pancapana) mendirikan candi Kalasan untuk memuja Dewi Tara, istri Bodhisatwa
Gautama, dan candi Sari untuk dijadikan wihara bagi umat Buddha atas permintaan
Raja Wisnu dari dinasti Syailendra.
Ini menunjukkan bahwa pada
masa pemerintahan raja ini datanglah dinasti Syailendra dipimpin rajanya, Bhanu
(yang kemudian digantikan Wisnu), dan menyerang wangsa Sanjaya hingga melarikan
diri ke Dieng, Wonosobo. Selain itu, Raja Panangkaran juga dipaksa mengubah
kepercayaannya dari Hindu ke Buddha. Adapun penerus wangsa Sanjaya setelah
Panangkaran tetap beragama Hindu.
3) Sri Maharaja Rakai
Panunggalan (784 – 803 M)
4) Sri Maharaja Rakai Warak
(803 – 827 M)
Dua raja ini tidak memiliki
peran yang berarti, mungkin karena kurang cakap dalam memerintah sehingga
dimanfaatkan oleh dinasti Syailendra untuk berkuasa atas Mataram. Setelah Raja
Warak turun takhta sebenarnya sempat digantikan seorang raja wanita, yaitu Dyah
Gula (827 – 828 M), namun karena kedudukannya hanya bersifat sementara maka
jarang ada sumber sejarah yang mengungkap peranannya atas Mataram Hindu.
5) Sri Maharaja Rakai
Garung (828 – 847 M)
Raja
ini beristana di Dieng, Wonosobo. Ia mengeluarkan prasasti Pengging (819 M) di
mana nama Garung disamakan dengan Patapan Puplar (mengenai Patapan Puplar
diceritakan dalam prasasti Karang Tengah – Gondosuli).
6) Sri
Maharaja Rakai Pikatan (847 – 855 M)
Raja
Pikatan berusaha keras mengangkat kembali kejayaan wangsa Sanjaya dalam masa
pemerintahannya. Ia menggunakan nama Kumbhayoni dan Jatiningrat (Agastya).
Beberapa sumber sejarah yang menyebutkan nama Pikatan sebagai berikut.
a)
Prasasti Perot, berangka tahun 850 M, menyebutkan bahwa Pikatan adalah raja
yang sebelumnya bergelar Patapan.
b)
Prasasti Argopuro yang dikeluarkan Kayuwangi pada tahun 864 M.
c)
Tulisan pada sebelah kanan dan kiri pintu masuk candi Plaosan menyebutkan nama
Sri Maharaja Rakai Pikatan dan Sri Kahulunan.
Diduga
tulisan tersebut merupakan catatan perkawinan antara Rakai Pikatan dan Sri
Kahulunan. Sri Kahulunan diduga adalah Pramodhawardhani, putri Samaratungga,
dari dinasti Syailendra. Mengenai pernikahan mereka dikisahkan kembali dalam
prasasti Karang Tengah.
Rakai
Pikatan sendiri mengeluarkan tiga prasasti berikut.
1)
Prasasti Pereng (862 M), isinya mengenai penghormatan kepada Syiwa dan
penghormatan
kepada Kumbhayoni.
2)
Prasasti Code D 28, berangka tahun Wulung Gunung Sang Wiku atau 778 Saka (856
M). Isinya adalah
(1)
Jatiningrat (Pikatan) menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Lokapala
(Kayuwangi dalam prasasti Kedu);
(2)
Pikatan mendirikan bangunan Syiwalaya (candi Syiwa), yang dimaksud adalah candi
Prambanan;
(3) kisah peperangan antara
Walaputra (Balaputradewa) melawan Jatiningrat (Pikatan) di mana Walaputra kalah
dan lari ke Ungaran (Ratu Boko).
3) Prasasti Ratu Boko,
berisi kisah pendirian tiga lingga sebagai tanda kemenangan.
Ketiga lingga yang dimaksud
adalah Krttivasa Lingga (Syiwa sebagai petapa berpakaian kulit harimau),
Tryambaka Lingga (Syiwa menghancurkan benteng Tripura yang dibuat raksasa), dan
Hara Lingga (Syiwa sebagai dewa tertinggi atau paling berkuasa).
Sebagai raja, Pikatan berusaha
menguasai seluruh Jawa Tengah, namun harus menghadapi wangsa Syailendra yang
saat itu menjadi penguasa Mataram Buddha. Untuk itu, Pikatan menggunakan taktik
menikahi Pramodhawardhani, putri Samaratungga, Raja Mataram dari dinasti
Syailendra. Pernikahan ini memicu peperangan dengan Balaputradewa yang merasa
berhak atas tahta Mataram sebagai putra Samaratungga. Balaputradewa kalah dan
Rakai Pikatan menyatukan kembali kekuasaan Mataram di Jawa Tengah.
7) Sri Maharaja Kayuwangi
(855 – 885 M)
Nama lain Sri Maharaja
Kayuwangi adalah Lokapala. Ia mengeluarkan, antara lain, tiga prasasti berikut.
a) Prasasti Ngabean (879
M), ditemukan dekat Magelang. Prasasti ini terbuat dari tembaga.
b) Prasasti Surabaya,
menyebutkan gelar Sajanotsawattungga untuk Kayuwangi.
c) Prasasti Argopuro (863
M), menyebutkan Rakai Pikatan pu Manuku berdampingan dengan nama Kayuwangi.
Dalam pemerintahannya,
Kayuwangi dibantu oleh dewan penasihat merangkap staf pelaksana yang terdiri
atas lima orang patih. Dewan penasihat ini diketuai seorang mahapatih.
8) Sri Maharaja
Watuhumalang (894 – 898 M)
Masa pemerintahan Kayuwangi
dan penerus-penerusnya sampai masa pemerintahan Dyah Balitung dipenuhi
peperangan perebutan kekuasaan. Itu sebabnya, setelah Kayuwangi turun takhta,
penggantinya tidak ada yang bertahan lama.
Di antara raja-raja yang
memerintah antara masa Kayuwangi dan Dyah Balitung yang tercatat dalam prasasti
Kedu adalah Sri Maharaja Watuhumalang. Raja-raja sebelumnya, yaitu Dyah Taguras
(885 M), Dyah Derendra (885 – 887 M), dan Rakai Gurunwangi (887 M) tidak
tercatat dalam prasasti tersebut mungkin karena masa pemerintahannya terlalu
singkat atau karena Balitung sendiri tidak mau mengakui kekuasaan mereka.
9) Sri Maharaja Watukura
Dyah Balitung (898 – 913 M)
Raja ini dikenal sebagai
raja Mataram yang terbesar. Ialah yang berhasil mempersatukan kembali Mataram
dan memperluas kekuasaan dari Jawa Tengah sampai ke Jawa Timur. Dyah Balitung
menggunakan beberapa nama:
a) Balitung Uttunggadewa
(tercantum dalam prasasti Penampihan),
b) Rakai Watukura Dyah
Balitung (tercantum dalam kitab Negarakertagama),
c) Dharmodaya Mahacambhu
(tercantum dalam prasasti Kedu), dan
d) Rakai Galuh atau Rakai
Halu (tercantum dalam prasasti Surabaya).
Prasasti-prasasti yang
penting dari Balitung sebagai berikut.
a) Prasasti Penampihan di
Kediri (898 M).
b) Prasasti Wonogiri (903
M).
c) Prasasti Mantyasih di
Kedu (907 M).
d) Prasasti Djedung di
Surabaya (910 M).
Sebenarnya, Balitung bukan
pewaris takhta Kerajaan Mataram. Ia dapat naik takhta karena kegagahberaniannya
dan karena perkawinannya dengan putri Raja Mataram. Selama masa
pemerintahannya, Balitung sangat memerhatikan kesejahteraan rakyat, terutama
dalam hal mata pencaharian, yaitu bercocok tanam, sehingga rakyat sangat
menghormatinya.
Tiga jabatan penting yang
berlaku pada masa pemerintahan Balitung adalah Rakryan i Hino (pejabat
tertinggi di bawah raja), Rakryan i Halu, dan Rakryan i Sirikan. Ketiga jabatan
itu merupakan tritunggal dan terus dipakai hingga zaman Kerajaan Majapahit.
Balitung digantikan oleh
Sri Maharaja Daksa dan diteruskan oleh Sri Maharaja Tulodhong dan Sri Maharaja
Wana. Namun, ketiga raja ini sangat lemah sehingga berakhirlah kekuasaan
dinasti Sanjaya.
Ketika Mataram diperintah
oleh Panangkaran (wangsa Sanjaya), datanglah dinasti Syailendra ke Jawa. Ada
beberapa pendapat mengenai asal-usul dinasti Syailendra ini. Dr. Majumdar,
Nilakanta Sastri, dan Ir. Moens berpendapat bahwa dinasti Syailendra berasal
dari India. Adapun Coedes berpendapat bahwa dinasti Syailendra berasal dari
Funan.
Dinasti ini lalu berhasil
mendesak wangsa Sanjaya menyingkir ke Pegunungan Dieng, Wonosobo, di wilayah
Jawa Tengah bagian utara. Di sanalah wangsa Sanjaya kemudian memerintah.
Sementara itu, dinasti Syailendra mendirikan Kerajaan Syailendra (Mataram
Buddha) di wilayah sekitar Yogyakarta dan menguasai Jawa Tengah bagian selatan.
Sumber-sumber sejarah
mengenai keberadaan dinasti Syailendra sebagai berikut.
1) Prasasti Kalasan (778 M)
2) Prasasti Kelurak (782 M)
3) Prasasti Ratu Boko (856
M)
4) Prasasti Nalanda (860 M)
Raja-raja dinasti
Syailendra sebagai berikut.
1) Bhanu (752 – 775 M)
Bhanu berarti matahari. Ia
adalah raja Syailendra yang pertama. Namanya disebutkan dalam prasasti yang
ditemukan di Plumpungan (752 M), dekat Salatiga.
2) Wisnu (775 – 782 M)
Nama Wisnu disebutkan dalam
beberapa prasasti.
a) Prasasti Ligor B
menyebutkan nama Wisnu yang dipersamakan dengan matahari, bulan, dan dewa Kama.
Disebutkan pula gelar yang diberikan kepada Wisnu, yaitu
Syailendravamsaprabhunigadata Sri Maharaja, artinya pembunuh musuh yang gagah
berani.
b) Prasasti Kalasan (778 M)
menyebutkan desakan dinasti Syailendra terhadap Panangkaran.
c) Prasasti Ratu Boko (778
M) menyebutkan nama Raja Dharmatunggasraya.
3) Indra (782 – 812 M)
Raja Indra mengeluarkan
prasasti Kelurak (782 M) yang menyebutkan pendirian patung Boddhisatwa
Manjusri, yang mencakup Triratna (candi Lumbung), Vajradhatu (candi Sewu), dan
Trimurti (candi Roro Jongrang). Setelah wafat, Raja Indra dimakamkan di candi
Pawon. Nama lain candi ini adalah candi Brajanala atau Wrajanala. Wrajanala
artinya petir yang menjadi senjata dewa Indra.
4) Samaratungga (812 – 832
M)
Raja ini adalah raja
terakhir keturunan Syailendra yang memerintah di Mataram. Ia mengeluarkan
prasasti Karang Tengah yang berangka tahun Rasa Segara Krtidhasa atau 746 Saka
(824 M). Dalam prasasti tersebut disebutkan nama Samaratungga dan putrinya, Pramodhawardhani.
Disebutkan pula mengenai pendirian bangunan Jimalaya (candi Prambanan) oleh
Pramodhawardhani.
Nama Samaratungga juga
disebutkan dalam prasasti Nalanda (860 M) yang menceritakan pendirian biara di
Nalanda pada masa pemerintahan Raja Dewapaladewa (Kerajaan Pala, India). Pada
masa pemerintahannya, Samaratungga membangun candi Borobudur yang merupakan
candi besar agama Buddha. Samaratungga kemudian digantikan oleh Rakai Pikatan,
suami Pramodhawardhani yang berasal dari wangsa Sanjaya. Kembalilah kekuasaan
wangsa Sanjaya atas Mataram Kuno sepenuhnya.
Letak kerajaan Mataram yang
terisolasi menyebabkan perekonomian kerajaan itu sulit untuk berkembang dengan
baik. Selain itu, transportasi dari pesisir ke pedalaman sulit untuk dilakukan
karena keadaan sungainya. Dengan demikian, perekonomian rakyat banyak yang
mengandalkan sektor agraris daripada perdagangan, apalagi perdagangan
internasional. Dengan keadaan tersebut, wajar bila Raja Kayuwangi berusaha
untuk memajukan sektor pertanian, sebab dengan sektor inilah, perekonomian
rakyat dapat dikembangkan.
Berdasarkan prasasti
Purworejo (900 M) disebutkan bahwa Raja Belitung memerintahkan pendirian
pusat-pusat perdagangan. Pendirian pusat-pusat perdagangan tersebut dimaksudkan
untuk mengembangkan perekonomian masyarakat, baik di sektor pertanian dan
perdagangan. Selain itu, dimaksudkan agar menarik para pedagang dari daerah
lain untuk mau berdagang di Mataram.
Prasasti Wonogiri (903 M)
menceritakan tentang dibebaskannya desa-desa di daerah pinggiran sungai
Bengawan Solo apabila penduduk setempat mampu menjamin kelancaran lalu lintas
di sungai tersebut. Terjaminnya sarana pengangkutan atau transportasi merupakan
kunci untuk mengembangkan perekonomian dan membuka hubungan dagang dengan dunia
luar. Dengan demikian, usaha-usaha mengembangkan sektor perekonomian terus
diusahakan oleh raja Mataram demi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya.
Struktur sosial masyarakat
Mataram Kuno tidak begitu ketat, sebab seorang Brahmana dapat menjadi seorang
pejabat seperti seorang ksatria, ataupun sebaliknya seorang Ksatria bisa saja
menjadi seorang pertapa. Dalam masyarakat Jawa, terkenal dengan kepercayaan
bahwa dunia manusia sangat dipengaruhi oleh alam semesta (sistem kosmologi).
Dengan demikian, segala yang terjadi di alam semesta ini akan berpengaruh pada
kehidupan manusia, begitu pula sebaliknya.
Oleh karena itu, untuk
keserasian alam semesta dan kehidupan manusia maka harus dijalin hubungan yang
harmonis antara alam semesta dan manusia, begitu pula antara sesama manusia.
Sistem kosmologi juga menjadikan raja sebagai penguasa tertinggi dan penjelmaan
kekuatan dewa di dunia. Seluruh kekayaan yang ada di tanah kerajaan adalah
milik raja, dan rakyat wajib membayar upeti dan pajak pada raja. Sebaliknya
raja harus memerintah secara arif dan bijaksana.
Dalam bidang kebudayaan,
Mataram Kuno banyak menghasilkan karya yang berupa candi. Pada masa
pemerintahan Raja Sanjaya, telah dibangun beberapa candi antara lain: Candi
Arjuna, Candi Bima dan Candi Nakula. Pada masa Rakai Pikatan, dibangun Candi
Prambanan. Candi-candi lain yang dibangun pada masa Mataram Kuno antara lain
Candi Borobudur, Candi Gedongsongo, Candi Sambisari, dan Candi Ratu Baka.
Pada masa pemerintahan
Rakai Pikatan, banyak didirikan candi-candi yang bercorak Hindu dan Buddha.
Pernikahannya dengan Pramodhawardhani tidak menyurutkan Rakai Pikatan untuk
berpindah agama. Ia tetap memeluk agama Hindu dan permaisurinya beragama Buddha.
Pembangunan candi-candi dilakukan dengan bekerja sama. Pramodhawardhani yang
bergelar Sri Kahulunan banyak mendirikan candi yang bersifat Buddha, sedangkan
suaminya (Rakai Pikatan) banyak mendirikan candi yang bersifat Hindu.
Kerajaan Singasari
1)
Ken Arok (1222–1227).
Pendiri Kerajaan Singasari
ialah Ken Arok yang menjadi Raja Singasari dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang
Amurwabumi. Munculnya Ken Arok sebagai raja pertama Singasari menandai
munculnya suatu dinasti baru, yakni Dinasti Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindra
(Girindrawangsa). Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun (1222–1227). Pada
tahun 1227 Ken Arok dibunuh oleh seorang suruhan Anusapati (anak tiri Ken
Arok). Ken Arok dimakamkan di Kegenengan dalam bangunan Siwa Buddha.
2)
Anusapati (1227–1248).
Dengan meninggalnya Ken
Arok maka takhta Kerajaan Singasari jatuh ke tangan Anusapati. Dalam jangka
waktu pemerintahaannya yang lama, Anusapati tidak banyak melakukan
pembaharuan-pembaharuan karena larut dengan kesenangannya menyabung ayam.
Peristiwa kematian Ken Arok
akhirnya terbongkar dan sampai juga ke Tohjoyo (putra Ken Arok dengan Ken
Umang). Tohjoyo mengetahui bahwa Anusapati gemar menyabung ayam sehingga
diundangnya Anusapati ke Gedong Jiwa ( tempat kediamanan Tohjoyo) untuk
mengadakan pesta sabung ayam. Pada saat Anusapati asyik menyaksikan aduan
ayamnya, secara tiba-tiba Tohjoyo mencabut keris buatan Empu Gandring yang
dibawanya dan langsung menusuk Anusapati. Dengan demikian, meninggallah
Anusapati yang didharmakan di Candi Kidal.
3)
Tohjoyo (1248)
Dengan meninggalnya
Anusapati maka takhta Kerajaan Singasari dipegang oleh Tohjoyo. Namun, Tohjoyo memerintah
Kerajaan Singasari tidak lama sebab anak Anusapati yang bernama Ranggawuni
berusaha membalas kematian ayahnya. Dengan bantuan Mahesa Cempaka dan para
pengikutnya, Ranggawuni berhasil menggulingkan Tohjoyo dan kemudian menduduki
singgasana.
4)
Ranggawuni (1248–1268)
Ranggawuni naik takhta
Kerajaan Singasari pada tahun 1248 dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana oleh
Mahesa Cempaka (anak dari Mahesa Wongateleng) yang diberi kedudukan sebagai
ratu angabhaya dengan gelar Narasinghamurti. Ppemerintahan Ranggawuni membawa
ketenteraman dan kesejahteran rakyat Singasari.
Pada tahun 1254,
Wisnuwardana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai yuwaraja
(raja muda) dengan maksud mempersiapkannya menjadi raja besar di Kerajaan
Singasari. Pada tahun 1268 Wisnuwardana meninggal dunia dan didharmakan di
Jajaghu atau Candi Jago sebagai Buddha Amogapasa dan di Candi Waleri sebagai
Siwa.
5)
Kertanegara (1268–-1292).
Kertanegara adalah Raja
Singasari terakhir dan terbesar karena mempunyai cita-cita untuk menyatukan
seluruh Nusantara. Ia naik takhta pada tahun 1268 dengan gelar Sri
Maharajadiraja Sri Kertanegara. Dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh tiga
orang mahamentri, yaitu mahamentri
i hino, mahamentri
i halu, dan mahamenteri
i sirikan.
Untuk dapat mewujudkan gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih Raganata digantikan oleh Patih Aragani. Banyak Wide dijadikan Bupati di Sumenep (Madura) dengan gelar Aria Wiaraja.
Untuk dapat mewujudkan gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih Raganata digantikan oleh Patih Aragani. Banyak Wide dijadikan Bupati di Sumenep (Madura) dengan gelar Aria Wiaraja.
Setelah
Jawa dapat diselesaikan, kemudian perhatian ditujukan ke daerah lain.
Kertanegara mengirimkan utusan ke Melayu yang dikenal dengan nama Ekspedisi
Pamalayu 1275 yang berhasil menguasai Kerajaan Melayu. Hal ini ditandai dengan
pengirimkan Arca Amogapasa ke Dharmasraya atas perintah Raja Kertanegara.
Selain menguasai Melayu, Singasari juga menaklukan Pahang, Sunda, Bali,
Bakulapura (Kalimantan Barat), dan Gurun (Maluku). Kertanegara juga menjalin
hubungan persahabatan dengan raja Champa,dengan tujuan untuk menahan perluasaan
kekuasaan Kubilai Khan dari Dinasti Mongol.
Ekspedisi
Pamalayu selain
untuk memperluas wilayah kekuasaan Singasari, juga bermaksud
membendung ambisi Dinasti Mongol (Kubilai Khan) di utara yang
ingin menundukkan negara-negara sebelah selatan termasuk Singasari.
Dengan menundukkan Kerajaan Melayu, berarti Singasari memiliki
benteng pertahanan kedua untuk menghadang laju ekspansi bangsa
Mongol tersebut.
Kubilai Khan menuntut
raja-raja di daerah selatan termasuk Indonesia mengakuinya sebagai yang
dipertuan. Kertanegara menolak dengan melukai nuka utusannya yang bernama
Mengki. Tidakan Kertanegara ini membuat Kubilai Khan marah besar dan bermaksud
menghukumnya dengan mengirimkan pasukannya ke Jawa.
Mengetahui sebagian besar
pasukan Singasari dikirim untuk menghadapi serangan Mongol maka Jayakatwang
(Kediri) menggunakan kesempatan untuk menyerangnya. Serangan dilancarakan dari
dua arah, yakni dari arah utara merupakan pasukan pancingan dan dari arah
selatan merupakan pasukan inti.
Pasukan Kediri dari arah selatan
dipimpin langsung oleh Jayakatwang dan berhasil masuk istana dan menemukan
Kertanagera berpesta pora dengan para pembesar istana. Kertanaga beserta
pembesar-pembesar istana tewas dalam serangan tersebut.
Ardharaja berbalik memihak
kepada ayahnya (Jayakatwang), sedangkan Raden Wijaya berhasil menyelamatkan
diri dan menuju Madura dengan maksud minta perlindungan dan bantuan kepada Aria
Wiraraja. Atas bantuan Aria Wiraraja, Raden Wijaya mendapat pengampunan dan
mengabdi kepada Jayakatwang. Raden Wijaya diberi sebidang tanah yang bernama
Tanah Tarik oleh Jayakatwang untuk ditempati.
Dengan gugurnya Kertanegara
maka Kerajaan Singasari dikuasai oleh Jayakatwang. Ini berarti berakhirnya
kekuasan Kerajaan Singasari. Sesuai dengan agama yang dianutnya, Kertanegara
kemudian didharmakan sebagai Siwa Buddha (Bairawa) di Candi Singasari. Arca
perwujudannya dikenal dengan nama Joko Dolog yang sekarang berada di Taman
Simpang, Surabaya.
Ketika Ken Arok menjadi
Akuwu di Tumapel, ia berusaha meningkatkan kehidupan sosial masyarakatnya.
Terjaminnya kehidupan sosial masyarakat Tumapel mengakibatkan bergabungnya
daerah-daerah di sekitarnya. Perhatian Ken Arok bertambah besar ketika ia
menjadi raja di Singasari. Dengan demikian, rakyat hidup dengan aman dan damai
untuk mencapai kesejahteraannya.
Akan tetapi, ketika masa
pemerintahan Anusapati, kehidupan sosial masyarakat Siongasari kurang
mendapatkan perhatian. Baru pada masa pemerintahan Wisnuwardana, kehidupan
sosial masyarakatnya teratur baik.Rakyat hidup dengan tentram dan damai. Begitu
juga masa pemerintahan Kertanegara. Dalam kehidupan ekonomi, rakyat Kerajaan
Singasari hidup dari pertanian, pelayaran, dan perdagangan.
Kehidupan kebudayaan
masyarakat Singasari dapat diketahui dari peninggalan candi-candi dan
patung-patung yang berhasil dibangunnya. Candi hasil peninggalan Singasari, di
antaranya adalah Candi Kidal, Candi Jago, dan Candi Singasari.
Adapun arca atau patung
hasil peninggalan Kerajaan Singasari, antara lain Patung Ken Dedes sebagai
perwujudan dari Prajnyaparamita lambang kesempurnaan ilmu dan Patung
Kertanegara dalam wujud Patung Joko Dolog.
Kerajaan Majapahit
1) Raden
Wijaya (1292–1309)
Kerajaan Majapahit lahir dalam suasana perubahan besar dalam waktu yang singkat. Pada tahun 1292 Kertanegara gugur oleh pengkhianatan Jayakatwang, Singasari hancur dan digantikan oleh Kediri. R. Wijaya terdesak oleh serangan tentara Jayakatwang di medan utara dan berhasil melarikan diri serta mendapat perlindungan dari Kepala Desa Kudadu.
Selanjutnya, ia berhasil menyeberang ke Madura minta perlindungan dan bantuan kepada Bupati Sumenep, Aria Wiraraja. Atas saran dan jaminan Aria Wiraraja, R. Wijaya mengabdikan diri kepada Jayakatwang dan memperoleh tanah di Desa Tarik yang kemudian menjadi pusat Kerajaan Majapahit
Tentara Kubilai Khan sebanyak 200.000 orang dibawah pimpinan Shih Pie, Ike Mase, dan Kau Shing datang untuk menghukum Kertanegara. R. Wijaya bergabung dengan tentara Cina dan mengadakan serangan ke Kediri karena Cina tidak mengetahui terjadinya perubahan kekuasaan di JawaTimur.
Setelah R. Wijaya dengan bantuan tentara Kubilai Khan berhasil mengalahkan Jayakatwang, ia menghantam tentara asing tersebut. Serangan mendadak yang tidak terkira sebelumnya, memaksa tentara Kubilai Khan meninggalkan Jawa Timur terburu-buru dengan sejumlah besar korban. Akhirnya, R. Wijaya dinobatkan menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1292–1307).
Untuk menjaga ketenteraman kerajaan maka R. Wijaya mengadakan konsolidasi dan mengatur pemerintahan. Orang-orang yang pernah berjasa dalam perjuangan diberi kedudukan dalam pemerintahan. Misalnya, Aria Wiraraja diberi tambahan wilayah di Lumajang sampai dengan Blambangan, Desa Kudadu dijadikan desa perdikan (bebas pajak dan mengatur daerahnya sendiri). Demikian juga teman seperjuangannya yang lain, diberi kedudukan, ada yang dijadikan menteri, kepala wilayah dan sebagainya.
Untuk memperkuat kedudukannya, kempat putri Kertanegara dijadikan istrinya, yakni Dewi Tribhuanaeswari, Dewi Narendraduhita, Dewi Prajnaparamita dan Dewi Gayatri. Tidak lama kemudian tentara Singasari yang ikut Ekspedisi Pamalayu di bawah pimpinan Kebo Anabrang kembali membawa dua putri boyongan, yakni Dara Petak dan Dara Jingga. Dara Petak diambil istri oleh R. Wijaya, sedangan Dara Jingga kawin dengan keluarga raja yang mempunyai anak bernama Adityawarman. Dialah yang kelak menjadi raja di Kerajaan Malayu (Minangkabau).
Demikianlah usaha-usaha yang dilakukan oleh R. Wijaya dalam upaya mengatur dan memperkuat kekuasaan pada masa awal Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1309 R. Wijaya meninggal dunia dan didharmakan di Candi Simping (Sumberjati, Blitar) dalam perwujudan Harihara (Siwa dan Wisnu dalam satu arca).
2) Jayanegera (1309–1328).
R. Wijaya kemudian digantikan oleh putranya Kalagemet dengan gelar Jayanegara (1309–1328), putra R. Wijaya dengan Dara Petak. Pada masa ini timbul kekacauan di Majapahit karena pemerintahan Jayanegara yang kurang berbobot dan adanya rasa tidak puas dari pejuang-pejuang Majapahit semasa pemerintahan R. Wijaya. Kekacauan di Majapahit itu berupa pemberontakan yang dapat membahayakan negara, seperti berikut.
a) Pemberontakan Rangga Lawe (1309) yang berkedudukan di Tuban tidak puas karena ia mengharapkan dapat menjadi patih di Majapahit, sedangkan yang diangkat adalah Nambi.
b) Pemberontakan Lembu Sora (1311) karena hasutan Mahapati yang merupakan musuh dalam selimut Jayanegara.
c) Pemberontakan Nambi (1316) karena ambisi ayahnya Aria Wiraraja agar Nambi menjadi raja. Semua pemberontakan tersebut dapat dipadamkan.
d) Pemberontakan Kuti (1319) merupakan pemberontakan yang paling membahayakan karena Kuti dapat menduduki istana kerajaan dan Jayanegara terpaksa menyingkir ke Bedander.
Namun, pasukan Bayangkari kerajaan di bawah pimpinan Gajah Mada berhasil merebut kembali istana. Jayanegara dapat kembali ke istana lagi dan berkuasa hingga tahun 1328. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Gajah Mada kemudian diangkat menjadi patih di Kahuripan dan kemudian di Daha.
3) Tribhuanatunggadewi (1328–1350)
Pada tahun 1328 Jayanegara wafat. Ia tidak mempunyai putra sehingga takhta kerajaan diserahkan kepada Gayatri. Oleh karena Gayatri telah menjadi bhiksuni maka yang tampil adalah putrinya, Bhre Kahuripan yang bertindak sebagai wali ibunya. Bhre Kahuripan bergelar Tribhuanatunggadewi.
Pemerintahan Tribhuanatunggadewi masih dirongrong pemberontakan, yakni pemberontakan Sadeng dan Keta. Namun, pemberontakan tersebut berhasil dihancurkan oleh Gajah Mada. Sebagai tanda penghargaan, pada tahun 1333 Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Majapahit menggantikan Arya Tadah yang sudah tua. Pada waktu penobatannya, Gajah Mada mengucapkan "Sumpah Palapa" (Tan Amukti Palapa). Isinya, Gajah Mada bersumpah tidak akan makan enak (palapa) sebelum seluruh Nusantara berada di bawah kekuasaan Majapahit.
Dalam usaha menyatukan seluruh Nusantara, Gajah Mada dibantu oleh Empuu Nala dan Adiytawarman. Mula-mula mereka menaklukkan Bali (1334). Selanjutnya, satu per satu kerajaan-kerajaan di Nusantara berhasil dipersatukan.
4) Hayam Wuruk (1350–1389)
Pada tahun 1350 Gayatri wafat sehingga Tribhuanatunggadewi turun takhta dan digantikan oleh putranya, yakni Hayam Wuruk dengan gelar Rajasanegara. Pada masa pemerintahannya bersama Patih Gajah Mada, Kerajaan Majapahit mencapai masa kejayaannya. Pemerintahan terlaksana secara teratur, baik di tingkat pusat (ibu kota), tingkat menengah (vasal), dan tingkat desa. Sistem pemerintahan daerah (tingkat menengah dan desa) tidak berubah, sedangkan di tingkat pusat diatur sebagai berikut:
a) Dewan Saptap Prabu, merupakan penasihat raja yang terdiri atas kerabat keraton dengan jabatan rakryan i hino, rakryan i halu, dan rakryan i sirikan.
b) Dewan Pancaring Wilwatikta, merupakan lembaga pelaksana pemerintahan (lembaga eksekutif) semacam dewan menteri yang terdiri atas rakryan mahapatih, rakryan tumenggung, rakryan demung, rakryan rangga, dan rakryan kanuruhan.
c) Dewan Nayapati (lembaga yudikatif) yang mengurusi peradilan.
d) Dharmadyaksa, lembaga yang mengurusi keagamaan terdiri atas Dharmadyaksa ring Kasaiwan untuk agama Hindu dan Dharmadyaksa ring Kasogatan untuk agama Buddha.
Dengan demikian, pada masa Majapahit penganut agama Hindu dan Buddha dapat hidup berdampingan, rukun dan damai. Bhineka tunggal ika tan hana dharmamangrawa inilah semboyan rakyat Majapahit dalam menciptakan persatuan dan kesatuan sehingga muncul sebagai kerajaan besar di Nusantara.
Di tingkat tengah terdapat pemerintah daerah yang dikepalai oleh seorang raja kecil atau bupati. Mereka dapat mengatur daerahnya secara otonom, tetapi setiap tahun berkewajiban datang ke ibu kota sebagai tanda tetap setia dan tunduk kepada pemerintah pusat Majapahit. Daerah-daerah demikian disebut mancanegara yang berarti negara (daerah) di luar daerah inti kerajaan.
Jadi, untuk mengikat hubungan maka setiap tahun daerah taklukan harus mengirim upeti ke Majapahit. Di samping itu juga ada petugas Majapahit yang berkeliling ke daerah-daerah untuk melihat kedaan rakyatnya. Untuk memantau ketertiban dan keamanan dikirimlah duta nitiyasa (petugas sandi) ke seluruh Nusantara
Di tingkat bawah, terdapat pemerintahan desa yang dikepalai oleh seorang kepala desa. Pemerintahan dilakukan menurut hukum adat desa itu sendiri. Struktur pemerintahan desa masih asli dan kepala desa dipilih secara demokratis.
Dengan kondisi pemerintahan yang stabil dan keamanan yang mantap, Sumpah Palapa Gajah Mada dapat diwujudkan. Satu per satu wilayah Nusantara dapat menyatu dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Dalam kitab Negarakrtagama secara jelas disebutkan daerah-daearah yang masuk wilayah kekuasaan Majapahit ialah Jawa, Sumatra, Tanjungpura (Kalimantan), Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua, Semenanjung Malaka, dan daerah-daerah pulau di sekitarnya.
Majapahit juga menjalin hubungan baik dengan negara-negara yang jauh, seperi Siam, Champa dan Cina. Negara-negara tersebut dianggap sebagai mitreka satata (negara sahabat yang berkedudukan sama).
Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389 dan digantikan oleh putrinya Dyah Kusumawardhani yang didampingi oleh suaminya Wikramawardhana (1389–1429). Hayam Wuruk dengan isteri selir mempunyai anak Bhre Wirabhumi yang telah diberi kekuasaan sebagai penguasa daerah (bupati) di Blambangan. Akan tetapi, Bhre Wirabumi menuntut takhta Majapahit sehingga menimbulkan perang saudara (Perang Peregreg) tahun1401–1406. Pada akhirnya Bhre Wirabhumi kalah dan perang saudara tersebut mengakibatkan lemahnya kekuasaan Majapahit.
Setelah Wikramawardhana meninggal (1429) takhtanya digantikan oleh Suhita yang memerintah hingga 1447. Sampai dengan akhir abad ke-15 masih ada raja-raja yang memerintah sebagai keturunan Majapahit , namun telah suram karena tidak ada persatuan dan kesatuan sehingga daerah-daerah jajahan satu demi satu melepaskan diri. Para bupati di pantai utara Jawa, seperi Demak, Gresik, dan Tuban telah menganut agama Islam sehingga satu per satu memisahkan diri dari Majapahit.
Demikian juga daerah di luar Jawa mulai berani tidak mengirim upeti ke Majapahit sampai dengan Majapahit mengalami kemunduran dan akhirnya rutuh. Dengan demikian, faktor yang menyebabkan kemunduran Majapahit kalu disimpulkan, antara lain sebagai berikut.
a) Tidak ada lagi tokoh-tokoh yang kuat di pusat pemerintahan yang dapat mempertahankan kesatuan wilayah sepeninggal Gajah Mada dan Hayam Wuruk.
b) Terjadinya perang saudara (Paregreg).
c) Banyak daerah-daerah jajahan yang melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.
d) Masuk dan berkembangnya agama Islam.
Setelah mengalami kemunduran, akhirnya Majapahit runtuh. Dalam hal ini ada dua pendapat:
a) Tahun 1478, yakni adanya serangan Girindrawardana dari Kediri.
Peristiwa tersebut diberi candrasengkala "hilang sirnakertaning bhumi" yang berarti tahun 1400 Saka/1478 M.
b) Tahun 1526, yakni adanya serangan tentara dari Demak di bawah pimpinan Raden Patah. Serangan Demak ini menandai berakhirnya kekuasaan Hindu di Jawa.
Kerajaan Majapahit lahir dalam suasana perubahan besar dalam waktu yang singkat. Pada tahun 1292 Kertanegara gugur oleh pengkhianatan Jayakatwang, Singasari hancur dan digantikan oleh Kediri. R. Wijaya terdesak oleh serangan tentara Jayakatwang di medan utara dan berhasil melarikan diri serta mendapat perlindungan dari Kepala Desa Kudadu.
Selanjutnya, ia berhasil menyeberang ke Madura minta perlindungan dan bantuan kepada Bupati Sumenep, Aria Wiraraja. Atas saran dan jaminan Aria Wiraraja, R. Wijaya mengabdikan diri kepada Jayakatwang dan memperoleh tanah di Desa Tarik yang kemudian menjadi pusat Kerajaan Majapahit
Tentara Kubilai Khan sebanyak 200.000 orang dibawah pimpinan Shih Pie, Ike Mase, dan Kau Shing datang untuk menghukum Kertanegara. R. Wijaya bergabung dengan tentara Cina dan mengadakan serangan ke Kediri karena Cina tidak mengetahui terjadinya perubahan kekuasaan di JawaTimur.
Setelah R. Wijaya dengan bantuan tentara Kubilai Khan berhasil mengalahkan Jayakatwang, ia menghantam tentara asing tersebut. Serangan mendadak yang tidak terkira sebelumnya, memaksa tentara Kubilai Khan meninggalkan Jawa Timur terburu-buru dengan sejumlah besar korban. Akhirnya, R. Wijaya dinobatkan menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1292–1307).
Untuk menjaga ketenteraman kerajaan maka R. Wijaya mengadakan konsolidasi dan mengatur pemerintahan. Orang-orang yang pernah berjasa dalam perjuangan diberi kedudukan dalam pemerintahan. Misalnya, Aria Wiraraja diberi tambahan wilayah di Lumajang sampai dengan Blambangan, Desa Kudadu dijadikan desa perdikan (bebas pajak dan mengatur daerahnya sendiri). Demikian juga teman seperjuangannya yang lain, diberi kedudukan, ada yang dijadikan menteri, kepala wilayah dan sebagainya.
Untuk memperkuat kedudukannya, kempat putri Kertanegara dijadikan istrinya, yakni Dewi Tribhuanaeswari, Dewi Narendraduhita, Dewi Prajnaparamita dan Dewi Gayatri. Tidak lama kemudian tentara Singasari yang ikut Ekspedisi Pamalayu di bawah pimpinan Kebo Anabrang kembali membawa dua putri boyongan, yakni Dara Petak dan Dara Jingga. Dara Petak diambil istri oleh R. Wijaya, sedangan Dara Jingga kawin dengan keluarga raja yang mempunyai anak bernama Adityawarman. Dialah yang kelak menjadi raja di Kerajaan Malayu (Minangkabau).
Demikianlah usaha-usaha yang dilakukan oleh R. Wijaya dalam upaya mengatur dan memperkuat kekuasaan pada masa awal Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1309 R. Wijaya meninggal dunia dan didharmakan di Candi Simping (Sumberjati, Blitar) dalam perwujudan Harihara (Siwa dan Wisnu dalam satu arca).
2) Jayanegera (1309–1328).
R. Wijaya kemudian digantikan oleh putranya Kalagemet dengan gelar Jayanegara (1309–1328), putra R. Wijaya dengan Dara Petak. Pada masa ini timbul kekacauan di Majapahit karena pemerintahan Jayanegara yang kurang berbobot dan adanya rasa tidak puas dari pejuang-pejuang Majapahit semasa pemerintahan R. Wijaya. Kekacauan di Majapahit itu berupa pemberontakan yang dapat membahayakan negara, seperti berikut.
a) Pemberontakan Rangga Lawe (1309) yang berkedudukan di Tuban tidak puas karena ia mengharapkan dapat menjadi patih di Majapahit, sedangkan yang diangkat adalah Nambi.
b) Pemberontakan Lembu Sora (1311) karena hasutan Mahapati yang merupakan musuh dalam selimut Jayanegara.
c) Pemberontakan Nambi (1316) karena ambisi ayahnya Aria Wiraraja agar Nambi menjadi raja. Semua pemberontakan tersebut dapat dipadamkan.
d) Pemberontakan Kuti (1319) merupakan pemberontakan yang paling membahayakan karena Kuti dapat menduduki istana kerajaan dan Jayanegara terpaksa menyingkir ke Bedander.
Namun, pasukan Bayangkari kerajaan di bawah pimpinan Gajah Mada berhasil merebut kembali istana. Jayanegara dapat kembali ke istana lagi dan berkuasa hingga tahun 1328. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Gajah Mada kemudian diangkat menjadi patih di Kahuripan dan kemudian di Daha.
3) Tribhuanatunggadewi (1328–1350)
Pada tahun 1328 Jayanegara wafat. Ia tidak mempunyai putra sehingga takhta kerajaan diserahkan kepada Gayatri. Oleh karena Gayatri telah menjadi bhiksuni maka yang tampil adalah putrinya, Bhre Kahuripan yang bertindak sebagai wali ibunya. Bhre Kahuripan bergelar Tribhuanatunggadewi.
Pemerintahan Tribhuanatunggadewi masih dirongrong pemberontakan, yakni pemberontakan Sadeng dan Keta. Namun, pemberontakan tersebut berhasil dihancurkan oleh Gajah Mada. Sebagai tanda penghargaan, pada tahun 1333 Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Majapahit menggantikan Arya Tadah yang sudah tua. Pada waktu penobatannya, Gajah Mada mengucapkan "Sumpah Palapa" (Tan Amukti Palapa). Isinya, Gajah Mada bersumpah tidak akan makan enak (palapa) sebelum seluruh Nusantara berada di bawah kekuasaan Majapahit.
Dalam usaha menyatukan seluruh Nusantara, Gajah Mada dibantu oleh Empuu Nala dan Adiytawarman. Mula-mula mereka menaklukkan Bali (1334). Selanjutnya, satu per satu kerajaan-kerajaan di Nusantara berhasil dipersatukan.
4) Hayam Wuruk (1350–1389)
Pada tahun 1350 Gayatri wafat sehingga Tribhuanatunggadewi turun takhta dan digantikan oleh putranya, yakni Hayam Wuruk dengan gelar Rajasanegara. Pada masa pemerintahannya bersama Patih Gajah Mada, Kerajaan Majapahit mencapai masa kejayaannya. Pemerintahan terlaksana secara teratur, baik di tingkat pusat (ibu kota), tingkat menengah (vasal), dan tingkat desa. Sistem pemerintahan daerah (tingkat menengah dan desa) tidak berubah, sedangkan di tingkat pusat diatur sebagai berikut:
a) Dewan Saptap Prabu, merupakan penasihat raja yang terdiri atas kerabat keraton dengan jabatan rakryan i hino, rakryan i halu, dan rakryan i sirikan.
b) Dewan Pancaring Wilwatikta, merupakan lembaga pelaksana pemerintahan (lembaga eksekutif) semacam dewan menteri yang terdiri atas rakryan mahapatih, rakryan tumenggung, rakryan demung, rakryan rangga, dan rakryan kanuruhan.
c) Dewan Nayapati (lembaga yudikatif) yang mengurusi peradilan.
d) Dharmadyaksa, lembaga yang mengurusi keagamaan terdiri atas Dharmadyaksa ring Kasaiwan untuk agama Hindu dan Dharmadyaksa ring Kasogatan untuk agama Buddha.
Dengan demikian, pada masa Majapahit penganut agama Hindu dan Buddha dapat hidup berdampingan, rukun dan damai. Bhineka tunggal ika tan hana dharmamangrawa inilah semboyan rakyat Majapahit dalam menciptakan persatuan dan kesatuan sehingga muncul sebagai kerajaan besar di Nusantara.
Di tingkat tengah terdapat pemerintah daerah yang dikepalai oleh seorang raja kecil atau bupati. Mereka dapat mengatur daerahnya secara otonom, tetapi setiap tahun berkewajiban datang ke ibu kota sebagai tanda tetap setia dan tunduk kepada pemerintah pusat Majapahit. Daerah-daerah demikian disebut mancanegara yang berarti negara (daerah) di luar daerah inti kerajaan.
Jadi, untuk mengikat hubungan maka setiap tahun daerah taklukan harus mengirim upeti ke Majapahit. Di samping itu juga ada petugas Majapahit yang berkeliling ke daerah-daerah untuk melihat kedaan rakyatnya. Untuk memantau ketertiban dan keamanan dikirimlah duta nitiyasa (petugas sandi) ke seluruh Nusantara
Di tingkat bawah, terdapat pemerintahan desa yang dikepalai oleh seorang kepala desa. Pemerintahan dilakukan menurut hukum adat desa itu sendiri. Struktur pemerintahan desa masih asli dan kepala desa dipilih secara demokratis.
Dengan kondisi pemerintahan yang stabil dan keamanan yang mantap, Sumpah Palapa Gajah Mada dapat diwujudkan. Satu per satu wilayah Nusantara dapat menyatu dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Dalam kitab Negarakrtagama secara jelas disebutkan daerah-daearah yang masuk wilayah kekuasaan Majapahit ialah Jawa, Sumatra, Tanjungpura (Kalimantan), Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua, Semenanjung Malaka, dan daerah-daerah pulau di sekitarnya.
Majapahit juga menjalin hubungan baik dengan negara-negara yang jauh, seperi Siam, Champa dan Cina. Negara-negara tersebut dianggap sebagai mitreka satata (negara sahabat yang berkedudukan sama).
Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389 dan digantikan oleh putrinya Dyah Kusumawardhani yang didampingi oleh suaminya Wikramawardhana (1389–1429). Hayam Wuruk dengan isteri selir mempunyai anak Bhre Wirabhumi yang telah diberi kekuasaan sebagai penguasa daerah (bupati) di Blambangan. Akan tetapi, Bhre Wirabumi menuntut takhta Majapahit sehingga menimbulkan perang saudara (Perang Peregreg) tahun1401–1406. Pada akhirnya Bhre Wirabhumi kalah dan perang saudara tersebut mengakibatkan lemahnya kekuasaan Majapahit.
Setelah Wikramawardhana meninggal (1429) takhtanya digantikan oleh Suhita yang memerintah hingga 1447. Sampai dengan akhir abad ke-15 masih ada raja-raja yang memerintah sebagai keturunan Majapahit , namun telah suram karena tidak ada persatuan dan kesatuan sehingga daerah-daerah jajahan satu demi satu melepaskan diri. Para bupati di pantai utara Jawa, seperi Demak, Gresik, dan Tuban telah menganut agama Islam sehingga satu per satu memisahkan diri dari Majapahit.
Demikian juga daerah di luar Jawa mulai berani tidak mengirim upeti ke Majapahit sampai dengan Majapahit mengalami kemunduran dan akhirnya rutuh. Dengan demikian, faktor yang menyebabkan kemunduran Majapahit kalu disimpulkan, antara lain sebagai berikut.
a) Tidak ada lagi tokoh-tokoh yang kuat di pusat pemerintahan yang dapat mempertahankan kesatuan wilayah sepeninggal Gajah Mada dan Hayam Wuruk.
b) Terjadinya perang saudara (Paregreg).
c) Banyak daerah-daerah jajahan yang melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.
d) Masuk dan berkembangnya agama Islam.
Setelah mengalami kemunduran, akhirnya Majapahit runtuh. Dalam hal ini ada dua pendapat:
a) Tahun 1478, yakni adanya serangan Girindrawardana dari Kediri.
Peristiwa tersebut diberi candrasengkala "hilang sirnakertaning bhumi" yang berarti tahun 1400 Saka/1478 M.
b) Tahun 1526, yakni adanya serangan tentara dari Demak di bawah pimpinan Raden Patah. Serangan Demak ini menandai berakhirnya kekuasaan Hindu di Jawa.
DINASTI RAJASA (DINASTI
GIRINDRA)
Pemberontakan Kuti
merupakan pemberontakan yang paling berbahaya karena Kuti berhasil menduduki
ibu kota Majapahit, sehingga raja Jayanegara terpaksa melarikan diri ke daerah
Badandea. Jayanegara diselamatkan oleh pasukan Bhayangkari di bawah pimpinan
Gajah Mada. Berkat ketangkasan dan siasat jitu dari Gajah Mada, pemberontakan
Kuti berhasil ditumpas. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Gajah Mada
diangkat menjadi Patih di Kahuripan pada tahun 1321 M dan Patih di Daha
(Kediri).
Pada tahun 1328, Jayanegara
tewas dibunuh oleh Tabib Israna Ratanca, ia didharmakan di dalam pura di Sila
Petak dan Bubat. Jayanegara tidak mempunyai putra, maka takhta kerajaan
digantikan oleh adik perempuannya yang bernama Tribhuanatunggadewi. Ia
dinobatkan menjadi raja Majapahit dengan gelar Tribhuanatunggadewi Jaya Wisnu Wardhani.
Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Gajah Mada. Sebagai penghargaan atas jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi mahapatih di Majapahit oleh Tribhuanatunggadewi.
Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Gajah Mada. Sebagai penghargaan atas jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi mahapatih di Majapahit oleh Tribhuanatunggadewi.
Di hadapan raja dan para
pembesar Majapahit, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang terkenal dengan nama
Sumpah Palapa. Isi sumpahnya, ia tidak akan Amukti Palapa sebelum ia dapat
menundukkan Nusantara, yaitu Gurun, Seran, Panjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali,
Sunda, Palembang, dan Tumasik.
Dalam rangka mewujudkan
cita-citanya, Gajah Mada menaklukkan Bali pada tahun 1334, kemudian Kalimantan,
Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Sumatera, dan beberapa daerah di Semenanjung
Malaka. Seperti yang tercantum dalam kitab Negarakertagama, wilayah kekuasaan
Kerajaan Majapahit sangat luas, yakni meliputi daerah hampir seluas wilayah
Republik Indonesia sekarang.
Tribhuanatunggadewi memerintah selama dua puluh dua tahun. Pada tahun 1350, ia mengundurkan diri dari pemerintahan dan digantikan oleh putranya yang bernama Hayam Wuruk. Pada tahun 1350 M, putra mahkota Hayam Wuruk dinobatkan menjadi raja Majapahit dengan gelar Sri Rajasanagara dan ia didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada.
Tribhuanatunggadewi memerintah selama dua puluh dua tahun. Pada tahun 1350, ia mengundurkan diri dari pemerintahan dan digantikan oleh putranya yang bernama Hayam Wuruk. Pada tahun 1350 M, putra mahkota Hayam Wuruk dinobatkan menjadi raja Majapahit dengan gelar Sri Rajasanagara dan ia didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada.
Kerajaan Majapahit mencapai
puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Wilayah kekuasaan
Majapahit meliputi seluruh Nusantara. Pada saat itulah cita-cita Gajah Mada
dengan Sumpah Palapa berhasil diwujudkan. Usaha Gajah Mada dalam melaksanakan
politiknya, berakhir pada tahun 1357 dengan terjadinya peristiwa di Bubat,
yaitu perang antara Pajajaran dengan Majapahit. Pada waktu itu, Hayam Wuruk
bermaksud untuk menikahi putri Dyah Pitaloka.
Sebelum putri Dyah Pitaloka dan ayahnya beserta para pembesar Kerajaan Pajajaran sampai di Majapahit, mereka beristirahat di lapangan Bubat. Di sana terjadi perselisihan antara Gajah Mada yang menghendaki agar putri itu dipersembahkan oleh raja Pajajaran kepada raja Majapahit.
Sebelum putri Dyah Pitaloka dan ayahnya beserta para pembesar Kerajaan Pajajaran sampai di Majapahit, mereka beristirahat di lapangan Bubat. Di sana terjadi perselisihan antara Gajah Mada yang menghendaki agar putri itu dipersembahkan oleh raja Pajajaran kepada raja Majapahit.
Para pembesar Kerajaan
Pajajaran tidak setuju, akhirnya terjadilah peperangan di Bubat yang
menyebabkan semua rombongan Kerajaan Pajajaran gugur. Pada tahun 1364 M, Gajah
Mada meninggal dunia. Hal itu merupakan kehilangan yang sangat besar bagi
Majapahit. Kemudian pada tahun 1389 Raja Hayam Wuruk meninggal dunia. Hal ini
menjadi salah satu penyebab surutnya kebesaran Kerajaan Majapahit di samping
terjadinya pertentangan yang berkembang menjadi perang saudara.
Setelah Hayam Wuruk
meninggal, takhta Kerajaan Majapahit diduduki oleh Wikramawardhana. Ia adalah
menantu Hayam Wuruk yang menikah dengan putrinya yang bernama Kusumawardhani.
Ia memerintah Kerajaan Majapahit selama dua belas tahun.
Pada tahun 1401 mulai
timbul persengketaan antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabhumi. Bhre
Wirabhumi adalah anak Hayam Wuruk dari istri selirnya. Kemudian meletuslah
perang saudara, yang dikenal dengan nama Perang Paregreg, yang berhasil
dimenangkan oleh Wikramawardhana. Tetapi, pertentangan antarkeluarga ini belum
reda dan menimbulkan perasaan balas dendam.
Pada
tahun 1429 M, Wikramawardhana meninggal dunia. Selanjutnya raja-raja yang
memerintah Majapahit setelah Wikramawardhana adalah:
a.
Suhita (1429 M 1447 M), putri Wikramawardhana;
b.
Kertawijaya (1448 M 1451 M), adik Suhita;
c. Sri
Rajasawardhana (1451 M 1453 M);
d.
Girindrawardhana (1456 M 1466 M), anak dari Kertawijaya;
e. Sri
Singhawikramawardhana (1466 M 1474 M);
f.
Girindrawardhana Dyah Ranawijaya.
Raja
Majapahit yang terakhir ialah Girindrawardhana Dyah Ranawijaya. Runtuhnya
Kerajaan Majapahit pada tahun 1400 Saka (1478 M) dijelaskan dalam Chandra
Sengkala yang berbunyi, “Sirna
ilang Kertaning-Bhumi” dengan adanya peristiwa perang saudara
antara Dyah Ranawijaya dengan Bhre Kahuripan. Selain itu, keruntuhan Majapahit
disebabkan karena serangan dari Kerajaan Islam Demak.
Antara
tahun 1518 dan 1521, kekuasaan Kerajaan Majapahit telah beralih dari tangan
penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus penguasa dari Demak. Demikianlah riwayat
dari Kerajaan Majapahit yang merupakan suatu kerajaan besar di Nusantara.
Di
bidang ekonomi, Hayam Wuruk menaruh perhatian pada pertanian dan perdagangan
dengan menjadikan Tuban sebagai salah satu pusat perdagangan Majapahit. Berdasarkan
berita Cina bernama Wng Ta-Yuan yang menggambarkan pulau Jawa yang padat
penduduknya, tanahnya subur dan banyak menghasilkan padi, lada, garam, kain,
dan burung kakatua yang semuanya merupakan barang ekspor. Hayam Wuruk berusaha
untuk menyejahterakan rakyatnya dengan membuat saluran pengairan, pembuatan
bendungan, dan pembukaan tanah baru untuk perladangan.
Kehidupan
sosial masa Majapahit aman, damai, dan tenteram. Dalam kitabNegarakrtagama disebutkan bahwa
Hayam Wuruk melakukan perjalanan keliling ke daerah-daerah untuk
mengetahui sejauh mana kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya. Perlindungan
terhadap rakyat sangat diperhatikan. Demikian juga peradilan, dilaksanakan
secara ketat; siapa yang bersalah dihukum tanpa pandang bulu.
Dalam kondisi kehidupan yang aman dan teratur maka suatu masyarakat akan mampu menghasilkan karya-karya budaya yang bermutu tinggi. Hasil budaya Majapahit dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Candi
Banyak candi peninggalan Majapahit, seperti Candi Penataran (di Blitar), Candi Brahu, Candi Bentar (Waringin Lawang), Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, dan bangunan-bangunan kuno lainnya, seperti Segaran dan Makam Troloyo (di Trowulan).
2) Kesusanteran
Zaman Majapahit bidang sastra sangat berkembang. Hasil sastranya dapat dibagi menjadi zaman Majapahit Awal dan Majapahit Akhir.
a) Sastra Zaman Majapahit Awal
(1) Kitab Negarakrtagama, karangan Empu Prapanca. Isinya tentang keadaan kota Majapahit, daerah-daearah jajahan, dan perjalananan Hayam Wuruk keliling ke daerah-daerah.
(2) Kitab Sotasoma, karangan Empu Tantular. Di dalam kitab ini terdapat ungkapan yang berbuny "Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrawa" yang kemudian dipakai sebagai motto negara kita.
(3) Kitab Arjunawijaya karangan EmpuTantular. Isinya tentang raksasa yang dikalahkan oleh Arjuna Sasrabahu.
(4) Kitab Kunjarakarna, tidak diketahui pengarangnya.
b) Sastra Zaman Akhir Majapahit
(1) Kitab Pararaton, isinya menceritakan riwayat raja-raja Singasari dan Majapahit.
(2) Kitab Sudayana, isinya tentang Peristiwa Bubat.
(3) Kitab Sorandakan, isinya tentang pemberontakan Sora.
(4) Kitab Ranggalawe, isinya tentang pemberontakan Ranggalawe.
(5) Kitab Panjiwijayakrama, isinya riwayat R.Wijaya sampai dengan menjadi Raja Majapahit.
(6) Kitab Usana Jawa, isinya tentang penaklukan Bali oleh Gajah Mada dan Aryadamar.
(7) Kitab Tantu Panggelaran, tentang pemindahan gunung Mahameru ke Pulau Jawa oleh Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa.
Kehidupan Hukum Kerajaan Majapahit
Majapahit di masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, telah diciptakan hukum/perundangan-undangan Majapahit. Kitab hukum/perundangan-undangan Majapahit ini disebut Kutaramanawa yang termuat dalam dua piagam, yakni Piagam Bendasari (tidak bertarihk) dan Piagam Trowulan (bertarihk 1358).
Kitab Kutaramanawa terdiri atas 275 pasal, namun dalam terjemahannya hanya disajikan 272 pasal karena satu pasal rusak dan yang dua lainnya merupakan ulangan pasal yang sejenis. Kitab perundang-undangan ini meliputi hukum pidana dan perdata dan disusun dalam 20 (dua puluh ) bab. Sebagai contoh dapat dikemukakan mengenai bab dan isinya, antara lain sebagai berikut.
Bab I : ketentuan umum mengenai denda.
Bab II : delapan macam pembunuhan (astadusta).
Bab III : perlakukan terhadap rakyat (kawula).
Bab IV : delapan macam pencurian (astacorah).
Bab V : paksaan (sahasa).
Bab VI : jJual beli (adol-atuku).
Bab VII : gadai (sanda).
Bab XI : perkawinan (kawarangan).
Bab XIII : warisan (drewe kaliliran).
Bab XVIII : wanah (bhumi).
Bab XX : fitnah (duwilatek).
Proses pengadilan, semua keputusan dalam pengadilan diambil atas nama raja yang disebut Sang Amawabhumi, artinya orang yang mempunyai/menguasai negara. Dalam soal pengadilan, raja dibantu oleh dua orang dharmadhyaksa, yakni Dharmadhyaksa ring Kasaiwan dan Dharmadhyaksa ring Kasogatan, yakni kepala agama Siwa dan kepala agama Buddha. Kedudukan dharmadhyaksa sama dengan hakim tinggi. Mereka dibantu oleh lima upapatti (pembantu).
Sumber Sejarah (Prasasti) Kerajaan Majapahit
Prasasti adalah bukti sumber tertulis yang sangat penting dari masa lalu yang isinya antara lain mengenai kehidupan masyarakat misalnya tentang administrasi dan birokrasi pemerintahan, kehidupan ekonomi, pelaksanaan hukum dan keadilan, sistem pembagian bekerja, perdagangan, agama, kesenian, maupun adat istiadat.
Seperti juga isi prasasti pada umumnya, prasasti dari masa Majapahit lebih banyak berisi tentang ketentuan suatu daerah menjadi daerah perdikan atau sima. Meskipun demikian, banyak hal yang menarik untuk diungkapkan di sini, antara lain, yaitu:
Prasasti Kudadu (1294 M)
Mengenai pengalaman Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit yang telah ditolong oleh Rama Kudadu dari kejaran balatentara Yayakatwang setelah Raden Wijaya menjadi raja dan bergelar Krtajaya Jayawardhana Anantawikramottunggadewa, penduduk desa Kudadu dan Kepala desanya (Rama) diberi hadiah tanah sima.
Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Prasasti Balawi (1305 M)
Mengenai Raden Wijaya yang telah memperisteri keempat putri Kertanegara yaitu Sri Paduka Parameswari Dyah Sri Tribhuwaneswari, Sri Paduka Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Paduka Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita, dan Sri Paduka Rajapadni Dyah Dewi Gayatri, serta menyebutkan anaknya dari permaisuri bernama Sri Jayanegara yang dijadikan raja muda di Daha.
Prasasti Waringin Pitu (1447 M)
Mengungkapkan bentuk pemerintahan dan sistem birokrasi Kerajaan Majapahit yang terdiri dari 14 kerajaan bawahan yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre, yaitu Bhre Daha, Bhre Kahuripan, Bhre Pajang, Bhre Wengker, Bhre Wirabumi, Bhre Matahun, Bhre Tumapel, Bhre Jagaraga, Bhre Tanjungpura, Bhre Kembang Jenar, Bhre Kabalan, Bhre Singhapura, Bhre Keling, dan Bhre Kelinggapura.
Prasasti Canggu (1358 M)
Mengenai pengaturan tempat-tempat penyeberangan di Bengawan Solo.
Prasasti Biluluk (1366 M0, Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M).
Menyebutkan tentang pengaturan sumber air asin untuk keperluan pembuatan garam dan ketentuan pajaknya.
Prasasti Karang Bogem (1387 M)
Menyebutkan tentang pembukaan daerah perikanan di Karang Bogem.
Prasasti Marahi Manuk (tt) dan Prasasti Parung (tt)
Mengenai sengketa tanah, persengketaan ini diputuskan oleh pejabat kehakiman yang menguasai kitab-kitab hukum adat setempat.
Prasasti Katiden I (1392 M)
Menyebutkan tentang pembebasan daerah bagi penduduk desa Katiden yang meliputi 11 wilayah desa. Pembebasan pajak ini karena mereka mempunyai tugas berat, yaitu menjaga dan memelihara hutan alang-alang di daerah Gunung Lejar.
Prasasti Alasantan (939 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 6 September 939 M, Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isanawikrama memerintahkan agar tanah di Alasantan dijadikan sima milik Rakryan Kabayan.
Prasasti Kamban (941 M)
Meyebutkan bahwa apada tanggal 19 Maret 941 M, Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa meresmikan desa Kamban menjadi daerah perdikan.
Prasasti Hara-hara (Trowulan VI) (966 M).
Menyebutkan bahwa pada tanggal 12 Agustus 966 M, mpu Mano menyerahkan tanah yang menjadi haknya secara turun temurun kepada Mpungku Susuk Pager dan Mpungku Nairanjana untuk dipergunakan membiayai sebuah rumah doa (Kuti).
Prasasti Wurare (1289 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 21 September 1289 Sri Jnamasiwabajra, raja yang berhasil mempersatukan Janggala dan Panjalu, menasbihkan arca Mahaksobhya di Wurare. Gelar raja itu ialah Krtanagara setelah ditasbihkan sebagai Jina (dhyani Buddha).
Prasasti Maribong (Trowulan II) (1264 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 28 Agustus 1264 M Wisnuwardhana memberi tanda pemberian hak perdikan bagi desa Maribong.
Prasasti Canggu (Trowulan I)
Mengenai aturan dan ketentuan kedudukan hukum desa-desa di tepi sungai Brantas dan Solo yang menjadi tempat penyeberangan. Desa-desa itu diberi kedudukan perdikan dan bebas dari kewajiban membayar pajak, tetapi diwajibkan memberi semacam sumbangan untuk kepentingan upacara keagamaan dan diatur oleh Panji Margabhaya Ki Ajaran Rata, penguasa tempat penyeberangan di Canggu, dan Panji Angrak saji Ki Ajaran Ragi, penguasa tempat penyeberangan di Terung.
Dalam kondisi kehidupan yang aman dan teratur maka suatu masyarakat akan mampu menghasilkan karya-karya budaya yang bermutu tinggi. Hasil budaya Majapahit dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Candi
Banyak candi peninggalan Majapahit, seperti Candi Penataran (di Blitar), Candi Brahu, Candi Bentar (Waringin Lawang), Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, dan bangunan-bangunan kuno lainnya, seperti Segaran dan Makam Troloyo (di Trowulan).
2) Kesusanteran
Zaman Majapahit bidang sastra sangat berkembang. Hasil sastranya dapat dibagi menjadi zaman Majapahit Awal dan Majapahit Akhir.
a) Sastra Zaman Majapahit Awal
(1) Kitab Negarakrtagama, karangan Empu Prapanca. Isinya tentang keadaan kota Majapahit, daerah-daearah jajahan, dan perjalananan Hayam Wuruk keliling ke daerah-daerah.
(2) Kitab Sotasoma, karangan Empu Tantular. Di dalam kitab ini terdapat ungkapan yang berbuny "Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrawa" yang kemudian dipakai sebagai motto negara kita.
(3) Kitab Arjunawijaya karangan EmpuTantular. Isinya tentang raksasa yang dikalahkan oleh Arjuna Sasrabahu.
(4) Kitab Kunjarakarna, tidak diketahui pengarangnya.
b) Sastra Zaman Akhir Majapahit
(1) Kitab Pararaton, isinya menceritakan riwayat raja-raja Singasari dan Majapahit.
(2) Kitab Sudayana, isinya tentang Peristiwa Bubat.
(3) Kitab Sorandakan, isinya tentang pemberontakan Sora.
(4) Kitab Ranggalawe, isinya tentang pemberontakan Ranggalawe.
(5) Kitab Panjiwijayakrama, isinya riwayat R.Wijaya sampai dengan menjadi Raja Majapahit.
(6) Kitab Usana Jawa, isinya tentang penaklukan Bali oleh Gajah Mada dan Aryadamar.
(7) Kitab Tantu Panggelaran, tentang pemindahan gunung Mahameru ke Pulau Jawa oleh Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa.
Kehidupan Hukum Kerajaan Majapahit
Majapahit di masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, telah diciptakan hukum/perundangan-undangan Majapahit. Kitab hukum/perundangan-undangan Majapahit ini disebut Kutaramanawa yang termuat dalam dua piagam, yakni Piagam Bendasari (tidak bertarihk) dan Piagam Trowulan (bertarihk 1358).
Kitab Kutaramanawa terdiri atas 275 pasal, namun dalam terjemahannya hanya disajikan 272 pasal karena satu pasal rusak dan yang dua lainnya merupakan ulangan pasal yang sejenis. Kitab perundang-undangan ini meliputi hukum pidana dan perdata dan disusun dalam 20 (dua puluh ) bab. Sebagai contoh dapat dikemukakan mengenai bab dan isinya, antara lain sebagai berikut.
Bab I : ketentuan umum mengenai denda.
Bab II : delapan macam pembunuhan (astadusta).
Bab III : perlakukan terhadap rakyat (kawula).
Bab IV : delapan macam pencurian (astacorah).
Bab V : paksaan (sahasa).
Bab VI : jJual beli (adol-atuku).
Bab VII : gadai (sanda).
Bab XI : perkawinan (kawarangan).
Bab XIII : warisan (drewe kaliliran).
Bab XVIII : wanah (bhumi).
Bab XX : fitnah (duwilatek).
Proses pengadilan, semua keputusan dalam pengadilan diambil atas nama raja yang disebut Sang Amawabhumi, artinya orang yang mempunyai/menguasai negara. Dalam soal pengadilan, raja dibantu oleh dua orang dharmadhyaksa, yakni Dharmadhyaksa ring Kasaiwan dan Dharmadhyaksa ring Kasogatan, yakni kepala agama Siwa dan kepala agama Buddha. Kedudukan dharmadhyaksa sama dengan hakim tinggi. Mereka dibantu oleh lima upapatti (pembantu).
Sumber Sejarah (Prasasti) Kerajaan Majapahit
Prasasti adalah bukti sumber tertulis yang sangat penting dari masa lalu yang isinya antara lain mengenai kehidupan masyarakat misalnya tentang administrasi dan birokrasi pemerintahan, kehidupan ekonomi, pelaksanaan hukum dan keadilan, sistem pembagian bekerja, perdagangan, agama, kesenian, maupun adat istiadat.
Seperti juga isi prasasti pada umumnya, prasasti dari masa Majapahit lebih banyak berisi tentang ketentuan suatu daerah menjadi daerah perdikan atau sima. Meskipun demikian, banyak hal yang menarik untuk diungkapkan di sini, antara lain, yaitu:
Prasasti Kudadu (1294 M)
Mengenai pengalaman Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit yang telah ditolong oleh Rama Kudadu dari kejaran balatentara Yayakatwang setelah Raden Wijaya menjadi raja dan bergelar Krtajaya Jayawardhana Anantawikramottunggadewa, penduduk desa Kudadu dan Kepala desanya (Rama) diberi hadiah tanah sima.
Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Prasasti Balawi (1305 M)
Mengenai Raden Wijaya yang telah memperisteri keempat putri Kertanegara yaitu Sri Paduka Parameswari Dyah Sri Tribhuwaneswari, Sri Paduka Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Paduka Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita, dan Sri Paduka Rajapadni Dyah Dewi Gayatri, serta menyebutkan anaknya dari permaisuri bernama Sri Jayanegara yang dijadikan raja muda di Daha.
Prasasti Waringin Pitu (1447 M)
Mengungkapkan bentuk pemerintahan dan sistem birokrasi Kerajaan Majapahit yang terdiri dari 14 kerajaan bawahan yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre, yaitu Bhre Daha, Bhre Kahuripan, Bhre Pajang, Bhre Wengker, Bhre Wirabumi, Bhre Matahun, Bhre Tumapel, Bhre Jagaraga, Bhre Tanjungpura, Bhre Kembang Jenar, Bhre Kabalan, Bhre Singhapura, Bhre Keling, dan Bhre Kelinggapura.
Prasasti Canggu (1358 M)
Mengenai pengaturan tempat-tempat penyeberangan di Bengawan Solo.
Prasasti Biluluk (1366 M0, Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M).
Menyebutkan tentang pengaturan sumber air asin untuk keperluan pembuatan garam dan ketentuan pajaknya.
Prasasti Karang Bogem (1387 M)
Menyebutkan tentang pembukaan daerah perikanan di Karang Bogem.
Prasasti Marahi Manuk (tt) dan Prasasti Parung (tt)
Mengenai sengketa tanah, persengketaan ini diputuskan oleh pejabat kehakiman yang menguasai kitab-kitab hukum adat setempat.
Prasasti Katiden I (1392 M)
Menyebutkan tentang pembebasan daerah bagi penduduk desa Katiden yang meliputi 11 wilayah desa. Pembebasan pajak ini karena mereka mempunyai tugas berat, yaitu menjaga dan memelihara hutan alang-alang di daerah Gunung Lejar.
Prasasti Alasantan (939 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 6 September 939 M, Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isanawikrama memerintahkan agar tanah di Alasantan dijadikan sima milik Rakryan Kabayan.
Prasasti Kamban (941 M)
Meyebutkan bahwa apada tanggal 19 Maret 941 M, Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa meresmikan desa Kamban menjadi daerah perdikan.
Prasasti Hara-hara (Trowulan VI) (966 M).
Menyebutkan bahwa pada tanggal 12 Agustus 966 M, mpu Mano menyerahkan tanah yang menjadi haknya secara turun temurun kepada Mpungku Susuk Pager dan Mpungku Nairanjana untuk dipergunakan membiayai sebuah rumah doa (Kuti).
Prasasti Wurare (1289 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 21 September 1289 Sri Jnamasiwabajra, raja yang berhasil mempersatukan Janggala dan Panjalu, menasbihkan arca Mahaksobhya di Wurare. Gelar raja itu ialah Krtanagara setelah ditasbihkan sebagai Jina (dhyani Buddha).
Prasasti Maribong (Trowulan II) (1264 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 28 Agustus 1264 M Wisnuwardhana memberi tanda pemberian hak perdikan bagi desa Maribong.
Prasasti Canggu (Trowulan I)
Mengenai aturan dan ketentuan kedudukan hukum desa-desa di tepi sungai Brantas dan Solo yang menjadi tempat penyeberangan. Desa-desa itu diberi kedudukan perdikan dan bebas dari kewajiban membayar pajak, tetapi diwajibkan memberi semacam sumbangan untuk kepentingan upacara keagamaan dan diatur oleh Panji Margabhaya Ki Ajaran Rata, penguasa tempat penyeberangan di Canggu, dan Panji Angrak saji Ki Ajaran Ragi, penguasa tempat penyeberangan di Terung.
Kerajaan Kediri
Dalam
persaingan antara Panjalu dan Kediri, ternyata Kediri yang unggul dan menjadi
kerajaan yang besar kekuasaannya. Raja terbesar dari Kerajaan Kediri adalahJayabaya
(1135–1157). Jayabaya ingin mengembalikan kejayaan seperti masa
Airlangga dan berhasil. Panjalu dan Jenggala dapat bersatu kembali. Lencana
kerajaan memakai simbol Garuda Mukha simbol Airlangga.
Pada
masa pemerintahannya kesusastraan diperhatikan. Empu Sedah dan Empu Panuluh
menggubah karya sastra kitab Bharatayudha yang menggambarkan peperangan antara
Pandawa dan Kurawa yang untuk menggambarkan peperangan antara Jenggala dan
Kediri. Empu Panuluh juga menggubah kakawin Hariwangsa dan
Gatotkacasraya.
Jayabaya
juga terkenal sebagai pujangga yang ahli meramal kejadian masa depan, terutama
yang akan menimpa tanah Jawa. Ramalannya terkenal dengan istilah “Jangka Jayabaya".
Raja Kediri yang juga memperhatikan kesusastraan ialah Kameswara. Empu Tan Akung menulis kitab Wartasancaya dan Lubdaka, sedangkan Empu Dharmaja menulis kitab Smaradahana. Di dalam kiitab Smaradahana ini Kameswara dipuji-puji sebagai titisan Kamajaya, permaisurinya ialah Sri Kirana atau putri Candrakirana.
Raja Kediri yang juga memperhatikan kesusastraan ialah Kameswara. Empu Tan Akung menulis kitab Wartasancaya dan Lubdaka, sedangkan Empu Dharmaja menulis kitab Smaradahana. Di dalam kiitab Smaradahana ini Kameswara dipuji-puji sebagai titisan Kamajaya, permaisurinya ialah Sri Kirana atau putri Candrakirana.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar