Kerajaan Samudera Pasai
Kehidupan
Politik yang terjadi
di Kerajaan Samudera Pasai dapat dilihat pada masa pemerintahan raja-raja
berikut ini:
Sultan Malik al Saleh
Sultan Malik al Saleh merupakan raja pertama di Kerajaan Samudera Pasai. Dalam menjalankan pemerintahannya, Beliau berhasil menyatukan dua kota besar di Kerajaan Samudera Pasai, yakni kota Samudera dan kota Pasai
dan menjadikan masyarakatnya sebagai umat Islam. Setelah beliau mangkat pada tahun 1297, jabatan beliau diteruskan oleh putranya, Sultan Malik al Thahir. Lalu takhta kerajaan dilanjutkan lagi oleh kedua cucunya yang bernama Malik al Mahmud dan Malik al Mansur.
Malik al Mahmud dan Malik al Mansur
Dalam menjalankan pemerintahannya, Malik al Mahmud dan Malik al Mansur pernah memindahkan ibu kota kerajaan ke Lhok Seumawe dengan dibantu oleh kedua perdana menterinya.
Sultan Malik al Saleh
Sultan Malik al Saleh merupakan raja pertama di Kerajaan Samudera Pasai. Dalam menjalankan pemerintahannya, Beliau berhasil menyatukan dua kota besar di Kerajaan Samudera Pasai, yakni kota Samudera dan kota Pasai
dan menjadikan masyarakatnya sebagai umat Islam. Setelah beliau mangkat pada tahun 1297, jabatan beliau diteruskan oleh putranya, Sultan Malik al Thahir. Lalu takhta kerajaan dilanjutkan lagi oleh kedua cucunya yang bernama Malik al Mahmud dan Malik al Mansur.
Malik al Mahmud dan Malik al Mansur
Dalam menjalankan pemerintahannya, Malik al Mahmud dan Malik al Mansur pernah memindahkan ibu kota kerajaan ke Lhok Seumawe dengan dibantu oleh kedua perdana menterinya.
Sultan
Ahmad Perumadal Perumal
Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Perumadal Perumal inilah, Kerajaan Samudera Pasai pertama kalinya menjalin hubungan dengan Kerajaan / Kesultanan lain, yakni Kesultanan Delhi (India).
Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Perumadal Perumal inilah, Kerajaan Samudera Pasai pertama kalinya menjalin hubungan dengan Kerajaan / Kesultanan lain, yakni Kesultanan Delhi (India).
Aspek Kehidupan Ekonomi dan
Sosial
Kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Samudera Pasai dititikberatkan pada kegiatan perdagangan, pelayaran dan penyebaran agama. Hal ini dikarenakan, banyaknya pedagang asing yang sering singgah bahkan menetap di daerah Samudera Pasai, yakni Pelabuhan Malaka. Mereka yang datang dari berbagai negara seperti Persia, Arab, dan Gujarat kemudian bergaul dengan penduduk setempat dan menyebarkan agama serta kebudayaannya masing-masing. Dengan demikian, kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Samudera Pasai bertambah maju, begitupun di bidang perdagangan, pelayaran dan keagamannya.
Kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Samudera Pasai dititikberatkan pada kegiatan perdagangan, pelayaran dan penyebaran agama. Hal ini dikarenakan, banyaknya pedagang asing yang sering singgah bahkan menetap di daerah Samudera Pasai, yakni Pelabuhan Malaka. Mereka yang datang dari berbagai negara seperti Persia, Arab, dan Gujarat kemudian bergaul dengan penduduk setempat dan menyebarkan agama serta kebudayaannya masing-masing. Dengan demikian, kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Samudera Pasai bertambah maju, begitupun di bidang perdagangan, pelayaran dan keagamannya.
Keberadaan agama Islam di Samdera Pasai
sangat dipengaruhi oleh perkembangan di Timur Tengah. Hal itu terbukti pada
saat perubahan aliran Syi’ah menjadi Syafi’i di Samudera Pasai. Perubahan aliran
tersebut ternyata mengikuti perubahan di Mesir. Pada saat itu, di Mesir sedang
terjadi pergantian kekuasaan dari Dinasti Fatimah yang beraliran Syi’ah kepada
Dinasti Mameluk yang beraliran Syafi’i.
Aliran Syafi’i dalam perkembangannya di
samudera Pasai menyesuaikan dengan adat istiadat setempat. Oleh karena itu
kehidupan sosial masyarakatnya merupakan campuran Islam dengan adat istiadat
setempat.
Pada waktu
Samudera Pasai berkembang, Majapahit juga sedang mengembangkan politik
ekspansi. Majapahit setelah meyakini adanya hubungan antara Samudera Pasai dan
Delhi yang membahayakan kedudukannya, maka
pada tahun 1350 M segera menyerang
Samudera Pasai. Akibatnya, Samudera Pasai mengalami kemunduran. Pusat
perdagangan Samudera Pasai pindah ke pulau Bintan dan Aceh Utara (Banda Aceh).
Samudera Pasai runtuh ditaklukkan Aceh.
Kehidupan Ekonomi
Karena letak geografisnya yang strategis, ini mendukung kreativitas mayarakat untuk terjun langsung ke dunia maritim. Samudera pasai juga mempersiapkan bandar – bandar yang digunakan untuk :
Karena letak geografisnya yang strategis, ini mendukung kreativitas mayarakat untuk terjun langsung ke dunia maritim. Samudera pasai juga mempersiapkan bandar – bandar yang digunakan untuk :
·
Menambah
perbekalan untuk pelayaran selanjutnya
·
Mengurus soal –
soal atau masalah – masalah perkapalan
·
Mengumpulkan
barang – barang dagangan yang akan dikirim ke luar negeri
·
Menyimpan barang –
barang dagangan sebelum diantar ke beberapa daerah di Indonesia
Tahun 1350 M merupakan masa puncak
kebesaran kerajaan Majapahit, masa itu juga merupakan masa kebesaran Kerajaan
Samudera Pasai. Kerajaan Samudera Pasai juga berhubungan langsung dengan
Kerajaan Cina sebagai siasat untuk mengamankan diri dari ancaman Kerajaan Siam
yang daerahnya meliputi Jazirah Malaka.
Perkembangan ekonomi masyarakat
Kerajaan Samudera Pasai bertambah pesat, sehingga selalu menjadi perhatian
sekaligus incaran dari kerajaan – kerajaan di sekitarnya. Setelah Samudera
Pasai dikuasai oleh Kerajaan Malaka maka pusat perdagangan dipindahkan ke
Bandar Malaka.
Kehidupan Sosial Budaya
Kemajuan dalam bidang ekonomi membawa dampak pada kehidupan sosial, masyarakat Samudra Pasai menjadi makmur. Dan di samping itu juga kehidupan masyarakatnya diwarnai dengan semangat kebersamaan dan hidup saling menghormati sesuai dengan syariat Islam. Hubungan antara Sultan dengan rakyat terjalin baik. Sultan biasa melakukan musyawarah dan bertukar pikiran dengan para ulama, dan Sultan juga sangat hormat pada para
tamu yang datang, bahkan tidak jarang memberikan tanda mata kepada para tamu. Samudra Pasai mengembangkan sikap keterbukaan dan kebersamaan. Salah satu bukti dari hasil peninggalan budayanya, berupa batu nisan Sultan Malik al-Saleh dan jirat Putri Pasai.
Kemajuan dalam bidang ekonomi membawa dampak pada kehidupan sosial, masyarakat Samudra Pasai menjadi makmur. Dan di samping itu juga kehidupan masyarakatnya diwarnai dengan semangat kebersamaan dan hidup saling menghormati sesuai dengan syariat Islam. Hubungan antara Sultan dengan rakyat terjalin baik. Sultan biasa melakukan musyawarah dan bertukar pikiran dengan para ulama, dan Sultan juga sangat hormat pada para
tamu yang datang, bahkan tidak jarang memberikan tanda mata kepada para tamu. Samudra Pasai mengembangkan sikap keterbukaan dan kebersamaan. Salah satu bukti dari hasil peninggalan budayanya, berupa batu nisan Sultan Malik al-Saleh dan jirat Putri Pasai.
Kerajaan Aceh berdiri dan
muncul sebagai kekuatan baru di Selat Malaka, pada abad ke-16 setelah jatuhnya
Malaka ke tangan Portugis. Para pedagang Islam tidak mengakui kekuasaan
Portugis di Malaka dan segera memindahkan jalur perniagaan ke bandar-bandar
lainnya di seluruh Nusantara. Peran Malaka sebagai pusat perdagangan
internasional digantikan oleh Aceh selama beberapa abad. Di Selat Malaka,
Kerajaan Aceh bersaing dengan Kerajaan Johor di Semenanjung Malaysia. Nah, pada
kesempatan kali ini Zona Siswa akan mencoba menghadirkan penjelasan
mengenai Sejarah Kerajaan Aceh baik dari segi politik, ekonomi, maupun sosial-budaya.
A. Kehidupan
Politik
Kerajaan Aceh
didirikan Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1530 setelah melepaskan diri dari
kekuasaan Kerajaan Pidie. Tahun 1564 Kerajaan Aceh di bawah pimpinan Sultan
Alaudin al-Kahar (1537-1568). Sultan Alaudin al-Kahar menyerang kerajaan Johor
dan berhasil menangkap Sultan Johor, namun kerajaan Johor tetap berdiri dan
menentang Aceh. Pada masa kerajaan Aceh dipimpin oleh Alaudin Riayat Syah
datang pasukan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman untuk meminta
ijin berdagang di Aceh.
Penggantinya
adalah Sultan Ali Riayat dengan panggilan Sultan Muda, ia berkuasa dari tahun
1604-1607. Pada masa inilah, Portugis melakukan penyerangan karena ingin
melakukan monopoli perdagangan di Aceh, tapi usaha ini tidak berhasil.
Setelah Sultan
Muda digantikan oleh Sultan Iskandar Muda dari tahun 1607-1636, kerajaan Aceh
mengalami kejayaan dalam perdagangan. Banyak terjadi penaklukan di wilayah yang
berdekatan dengan Aceh seperti Deli (1612), Bintan (1614), Kampar, Pariaman,
Minangkabau, Perak, Pahang dan Kedah (1615-1619).
Gejala kemunduran
Kerajaan Aceh muncul saat Sultan Iskandar Muda digantikan oleh Sultan Iskandar
Thani (Sultan Iskandar Sani) yang memerintah tahun 1637-1642. Iskandar Sani
adalah menantu Iskandar Muda. Tak seperti mertuanya, ia lebih mementingkan
pembangunan dalam negeri daripada ekspansi luar negeri. Dalam masa
pemerintahannnya yang singkat, empat tahun, Aceh berada dalam keadaan damai dan
sejahtera, hukum syariat Islam ditegakkan, dan hubungan dengan
kerajaan-kerajaan bawahan dilakukan tanpa tekanan politik ataupun militer.
Pada masa Iskandar Sani ini, ilmu pengetahuan tentang Islam juga berkembang pesat. Kemajuan ini didukung oleh kehadiran Nuruddin ar-Raniri, seorang pemimpin tarekat dari Gujarat, India. Nuruddin menjalin hubungan yang erat dengan Sultan Iskandar Sani. Maka dari itu, ia kemudian diangkat menjadi mufti (penasehat) Sultan. Pada masa ini terjadi pertikaian antara golongan bangsawan (Teuku) dengan golongan agama (Teungku).
Seusai Iskandar
Sani, yang memerintah Aceh berikutnya adalah empat orang sultanah (sultan
perempuan) berturut-turut. Sultanah yang pertama adalah Safiatuddin Tajul Alam
(1641- 1675), janda Iskandar Sani. Kemudian berturut-turut adalah Sri Ratu
Naqiyatuddin Nurul Alam, Inayat Syah, dan Kamalat Syah. Pada masa Sultanah
Kamalat Syah ini turun fatwa dari Mekah yang melarang Aceh dipimpin oleh kaum
wanita. Pada 1699 pemerintahan Aceh pun dipegang oleh kaum pria kembali.
Pada tahun 1816,
sultan Aceh yang bernama Saiful Alam bertikai dengan Jawharul Alam Aminuddin.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Gubernur Jenderal asal Inggris, Thomas
Stanford Raffles yang ingin menguasai Aceh yang belum pernah ditundukkan oleh
Belanda. Ketika itu pemerintahan Hindia Belanda yang menguasai Indonesia tengah
digantikan oleh pemerintahan Inggris. Pada tanggal 22 April 1818, Raffles yang
ketika itu berkedudukan di Bengkulu, mengadakan perjanjian dagang dengan
Aminuddin. Berkat bantuan pasukan Inggris akhirnya Aminuddin menjadi sultan
Aceh pada tahun 1816, menggantikan Sultan Saiful Alam.
Pada tahun 1824,
pihak Inggris dan Belanda mengadakan perjanjian di London, Inggris. Traktat
London ini berisikan bahwa Inggris dan Belanda tak boleh mengadakan praktik kolonialisme
di Aceh. Namun, pada 1871, berdasarkan keputusan Traktat Sumatera, Belanda
kemudian berhak memperluas wilayah jajahannya ke Aceh.
Dua tahun
kemudian, tahun 1873, Belanda menyerbu Kerajaan Aceh. Alasan Belanda adalah
karena Aceh selalu melindungi para pembajak laut. Sejak saat itu, Aceh terus
terlibat peperangan dengan Belanda. Lahirlah pahlawan-pahlawan tangguh dari
Aceh, pria-wanita, di antaranya Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Panglima Polim.
Perang Aceh ini
baru berhenti pada tahun 1912 setelah Belanda mengetahui taktik perang
orang-orang Aceh. Runtuhlah Kerajaan Aceh, yang dikenal sebagai Serambi Mekah,
yang telah berdiri selama tiga abad lebih. Kemenangan Belanda ini berkat
bantuan Dr. Snouck Horgronje, yang sebelumnya menyamar sebagai seorang muslim
di Aceh. Pada tahun 1945 Aceh menjadi bagian dari Republik Indonesia.
B. Kehidupan
Ekonomi
Kehidupan ekonomi
masyarakat Aceh adalah dalam bidang pelayaran dan perdagangan. Pada masa
kejayaannya, perekonomian berkembang pesat. Penguasaan Aceh atas daerah-daerah
pantai barat dan timur Sumatra banyak menghasilkan lada. Sementara itu,
Semenanjung Malaka banyak menghasilkan lada dan timah. Hasil bumi dan alam menjadi
bahan ekspor yang penting bagi Aceh, sehingga perekonomian Aceh maju dengan
pesat.
Bidang perdagangan
yang maju menjadikan Aceh makin makmur. Setelah Sultan Ibrahim dapat
menaklukkan Pedir yang kaya akan lada putih, Aceh makin bertambah makmur.
Dengan kekayaan melimpah, Aceh mampu membangun angkatan bersenjata yang kuat.
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Aceh mencapai puncak kejayaan.
Dari daerah yang ditaklukkan didatangkan lada dan emas sehingga Aceh merupakan
sumber komoditas lada dan emas.
Aceh cepat tumbuh
menjadi kerajaan besar karena didukung oleh faktor sebagai berikut.
1. Letak ibu kota Aceh sangat strategis,
yaitu di pintu gerbang pelayaran dari India dan Timur Tengah yang akan ke
Malaka, Cina, atau ke Jawa.
2. Pelabuhan Aceh (Olele) memiliki
persyaratan yang baik sebagai pelabuhan dagang. Pelabuhan itu terlindung oleh
Pulau We, Pulau Nasi, dan Pulau Breuen dari ombak besar.
3. Daerah Aceh kaya dengan tanaman lada
sebagai mata dagangan ekspor yang penting. Aceh sejak dahulu mengadakan
hubungan dagang internasional.
4. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis
menyebabkan pedagang Islam banyak yang singgah ke Aceh, apalagi setelah jalur
pelayaran beralih melalui sepanjang pantai barat Sumatra.
C. Kehidupan Sosial-budaya
Letak Aceh yang
strategis menyebabkan perdagangannya maju pesat. Dengan demikian, kebudayaan
masyarakatnya juga makin bertambah maju karena sering berhubungan dengan bangsa
lain. Contoh dari hal tersebut adalah tersusunnya hukum adat yang dilandasi
ajaran Islam yang disebut Hukum Adat Makuta Alam.
Menurut Hukum Adat
Makuta Alam pengangkatan sultan haruslah semufakat hukum dengan adat. Oleh
karena itu, ketika seorang sultan dinobatkan, ia berdiri di atas tabal, ulama
yang memegang Al-Qur’an berdiri di kanan, sedangkan perdana menteri yang memegang
pedang berdiri di kiri.
Hukum Adat Makuta
Alam memberikan gambaran kekuasaan Sultan Aceh, seperti berikut:
1. mengangkat panglima sagi dan ulebalang,
pada saat pengangkatan mereka mendapat kehormatan bunyi dentuman meriam
sebanyak 21 kali;
2. mengadili perkara yang berhubungan
dengan pemerintahan;
3. menerima kunjungan kehormatan termasuk
pedagang-pedagang asing;
4. mengangkat ahli hukum (ulama);
5. mengangkat orang cerdik pandai untuk
mengurus kerajaan;
6. melindungi rakyat dari
kesewenang-wenangan para pejabat kerajaan.
Dalam menjalankan
kekuasaan, sultan mendapat pengawasan dari alim ulama, kadi, dan Dewan
Kehakiman. Mereka terutama bertugas memberi peringatan kepada sultan terhadap
pelanggaran adat dan syara’ yang dilakukan.
Sultan Iskandar
Muda berhasil menanamkan jiwa keagamaan pada masyarakat Aceh yang mengandung
jiwa merdeka, semangat membangun, rasa persatuan dan kesatuan, serta semangat
berjuang antipenjajahan yang tinggi. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika
Aceh mendapat sebutan Serambi Mekah. Itulah sebabnya, bangsa-bangsa Barat tidak
mampu menembus pertahanan Aceh
KERAJAAN MALAKA
Hubungan perdagangan antara Samodra Pasai dengan Malaka yang semakin ramai
telah membawa pengaruh islam di Malaka. Muncullah kemudian masyarakat islam di
Malaka. Pada abad ke-14 M, Malaka menjadi bandar paling penting di Asia
Tenggara. Karena pada saat itu Kerajaan Malaka merupakan pusat perdagangan dan
penyebaran islam. Dalam perkembangannya masyarakat muslim Malaka semakin banyak
sehingga kemudian muncul sebagai kerajaan besar.
A. Letak
Kerajaan Malaka
Letak
Kerajaan Malaka diperkirakan berada di Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka.
B. Sumber Sejarah
Sumber sejarah yang mengatakan adanya
Kerajaan Malaka antara lain :
1.
Sulalatus
Salatin
Mengatakan bahwa kerajaan ini merupakan
kelanjutan dari Kerajaan Melayu di Singpura, kemudian serangan Jawa dan Siam
menyebabkan pusat pemerintahan berpindah ke Malaka.
2. Kronik Dinasti Ming
Mencatat
Parameswara sebagai pendiri Malaka mengunjungi Kisar Tongle di Nanjing pada
tahun 1405 dan meminta pengakuan atas wilayah kedaulatannya. Sebagai balasan
upeti yang diberikan, Kaisar Cina menyetujui untuk memberikan perlindungan pada
Malaka, kemudian tercatat ada sampai 29 kali utusan Malaka mengunjungi Kaisar
Cina. Pengaruh yang besar dari relasi ini adalah Malaka dapat terhindar dari
kemungkinan adanya serangan Siam dari utara, terutama setelah Kaisar Cina
mengabarkan penguasa Ayutthaya akan hubungannya dengan Malaka.
Keberhasilan dalam hubungan diplomasi dengan Tiongkok memberi manfaat akan
kestabilan pemerintahan baru di Malaka, kemudian Malaka berkembang menjadi
pusat perdagangan di Asia Tenggara, dan juga menjadi salah satu pangkalan
armada Ming.
Disebutkan
terdapat nama tokoh yang mirip yaitu Bhra Hyang Parameswara sebagai suami dari Ratu Majapahit, Ratu Suhita.
baca selengkapnya
baca selengkapnya
C. Kehidupan Politik
Dalam menjalankan dan menyelenggarakan
politik negara, ternyata para sultan menganut paham politik hidup berdampingan
secara damai (co-existence policy) yang dijalankan secara efektif. Politik
hidup berdampingan secara damai dilakukan melalui hubungan diplomatik dan
ikatan perkawinan. Politik ini dilakukan untuk menjaga keamanan internal dan
eksternal Malaka. Dua kerajaan besar pada waktu itu yang harus diwaspadai
adalah Cina dan Majapahit. Maka, Malaka kemudian menjalin hubungan damai dengan
kedua kerajaan besar ini. Sebagai tindak lanjut dari politik negara tersebut,
Parameswara kemudian menikah dengan salah seorang putri Majapahit. Sultan-sultan yang memerintah setelah
Prameswara (Muhammad Iskandar Syah)) tetap menjalankan politik bertetangga baik
tersebut
Raja – raja yang memerintah Kerajaan Malaka
antara lain :
1. Iskandar Syah (1396-1414 M)
Pada abad
ke-15 M, di Majapahit terjadi perang paregreg yang mengakibatkan Paramisora
(Parameswara) melarikan diri bersama pengikutnya dari daerah Blambangan ke
Tumasik (Singapura), kemudian melanjutkan perjalanannya sampai ke Semenanjung
Malaya dan mendirikan Kp. Malaka
Secara
geografis, posisi Kp. Malaka sangat strategis, yaitu di Selat Malaka, sehingga
banyak dikunjungi para pedagang dari berbagai Negara terutama para pedagang
Islam, sehigga kehidupan perekonomian Kp. Malaka berkembang pesat,
Untuk
meningkatkan aktivitas perdagangan di Malaka, maka Paramisora menganut agama
Islam dan merubah namanya menjadi Iskandar Syah, kemudian menjadikan Kp. Malaka
menjadi Kerajaan Islam.
Untuk
menjaga keamanan Kerajaan Malaka, Iskandar Syah meminta bantuan kepada Kaisar
China dengan menyatakan takluk kepadanya (1405 M).
2. Muhammad Iskandar Syah (1414-1424 M)
Merupakan
putra dari Iskandar Syah, pada masa pemerintahannya wilayah
kekuasaan Kerajaan Malaka diperluas lagi hingga mencapai seluruh Semenanjung
Malaya.
Untuk
menjadi Kerajaan Malaka sebagai penguasa tunggal jalur pelayaran dan
perdagangan di Selat Malaka, maka harus berhadapan dengan Kerajaan Samudera
Pasai yang kekuatannya lebih besar dan tidak mungkin untuk bisa dikalahkan,
maka dipilih melalui jalur politik perkawinan dengan cara menikahi putri
Kerajaan Samudera Pasai, sehingga cita-citanya dapat tercapai.
3. Mudzafat Syah (1424-1458 M)
Setelah
berhasil menyingkirkan Muhammad Iskandar Syah, ia kemudian naik tahta dengan
gelar sultan (Mudzafat Syah merupakan raja Kerajaan Malaka yang pertama
bergelar Sultan).
Pada masa
pemerintahannya, terjadi serangan dari Kerajaan Siam (serangan dari darat dan
laut), namun dapat digagalkan.
Mengadakan
perluasan wilayah ke daerah-daerah yang berada di sekitar Kerajaan Malaka
seperti Pahang, Indragiri dan Kampar.
4. Sultan Mansyur Syah (1458-1477 M)
Merupakan
putra dari Sultan Mudzafat Syah.
Pada masa
pemerintahannya, Kerajaan Malaka mencapai puncak kejayaan sebagai pusat
perdagangan dan pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara.
Puncak
kejayaan dicapai berkat Sultan Mansyur Syah meneruskan politik ayahnya dengan
memperluas wilayah kekuasaanya, baik di Semananjung Malaya maupun di wilayah
Sumatera Tengah (Kerajaan Siam berhasil ditaklukan). Raja Siam tewas
dalam pertempuran , tetapi putra mahkotanya ditawan dan dikawinkan dengan putri
sultan sendiri kemudian diangkat menjadi raja dengan gelar Ibrahim. Indragiri
mengakui kekuasaan Malaka.
Kerajaan
Samudera Pasai, Jambi dan Palembang tidak serang karena menghormati Majapahit
yang berkuasa pada waktu itu, selain itu Kerajaan Aru juga tetap sebagai
kerajaan merdeka.
Kejayaan
Kerajaan Malaka tidak lepas dari jasaLaksamana
Hang Tuah yang
kebesarannya disamakan dengan kebesaran Patih Gajah Mada dari Kerajaan
Mahapahit. Cerita Hang Tuah ditulis dalam sebuah Hikayat, Hikayat Hang Tuah.
5. Sultan Alaudin Syah (1477-188 M)
Merupakan
putra dari Sultan Mansyur Syah
Pada masa
pemerintahannya, Kerajaan Malaka mulai mengalami kemunduran, satu persatu
wilayah kekuasaan Kerajaan Malaka mulai melepaskan diri. Hal ini disebabkan
oleh karena Sultan Alaudin Syah bukan merupakan raja yang cakap.
6. Sultan Mahmud Syah (1488-1511 M)
Merupakan
putra dari Sultan Alaudin Syah
Pada masa
pemerintahannya, Kerajaan Malaka merupakan kerajaan yang sangat lemah, wilayah
kekuasaannya meliputi sebagian kecil Semenanjung Malaya, hal ini menambah suram
kondisi Kerajaan Malaka.
Pada
tahun 1511 M, terjadi serangan dari bangsa Portugis di bawah pimpinan Alfonso d’Alberquerquedan berhasil Merebut Kerajaan Malaka.
Akhirnya Malaka pun jatuh ke tangan Portugis.
D. Kehidupan Sosial – Budaya
Pada
kehidupan budaya, perkembangan seni sastra Melayu mengalami perkembangan yang
pesat seperti munculnya karya-karya sastra yang menggambarkan tokoh-tokoh
kepahlawanan dari Kerajaan Malaka seperti Hikayat Hang Tuah, Hikayat Hang Lekir
dan Hikayat Hang Jebat.
Sedangkan
kehidupan sosial Kerajaan Malaka dipengaruhi
oleh faktor letak, keadaan alam dan lingkungan wilayahnya. Sebagai masyarakat
yang hidup dari dunia maritim, hubungan sosial masyarakatnya sangatlah kurang
dan bahkan mereka cenderung mengarah ke sifat-sifat individualisme. Kelompok
masyarakat pun bermunculan, seperti adanya golongan buruh dan majikan.
E. Kehidupan Ekonomi
Malaka
memungut pajak penjualan, bea cukai barang-barang yang masuk dan keluar, yang
banyak memasukkan uang ke kas negara. Sementara itu, raja maupun
pejabat-pejabat penting memperoleh upeti atau persembahan dari pedagang yang
dapat menjadikan mereka sangat kaya.
Suatu hal
yang penting dari Kerajaan Malaka adalah adanya undang-undang laut yang berisi
pengaturan pelayaran dan perdagangan di wilayah kerajaan. Untuk mempermudah
terjalinnya komunikasi antar pedagang maka bahasa Melayu (Kwu-lun) dijadikan
sebagai bahasa perantara.
Kerajaan Demak
Kesultanan Demak merupakan kerajaan Islam yang
pertama di Pulau Jawa. Kerajaan Demak berdiri sekitar abad ke-15 M. Pendiri
kerajaan ini adalah Raden Patah, seorang putra Raja Majapahit Kertawijaya yang
menikah dengan putri Campa. Pada masa Kerajaan Majapahit, Demak merupakan salah
satu wilayah kekuasaannya. Ketika Kerajaan Majapahit mengalami kehancuran
akibat perang saudara tahun 1478, Demak bangkit menjadi kerajaan Islam yang
pertama di Pulau Jawa. Candrasangkala pada Masjid Demak menyatakan bahwa tahun
1403 Saka (1481) sebagai tarikh berdirinya Kerajaan Demak. Secara geografis
Demak terletak di Jawa Tengah. Nah, pada kesempatan kali ini Zona Siswa akan
menghadirkan penjelasan mengenai Sejarah Kerajaan Demak dari segi politik,
ekonomi, dan sosial-budaya.
A. Kehidupan
Politik
Kerajaan Demak berdiri
kira-kira tahun 1478. Hal itu didasarkan pada saat jatuhnya Majapahit yang
diperintah oleh Prabu Kertabumi (Brawijaya V) dengan ditandai candrasengkala,
sirna ilang kertaning bumi (artinya tahun 1400 Saka atau tahun 1478 Masehi).
Para wali kemudian sepakat untuk menobatkan Raden Patah menjadi raja di
Kerajaan Demak dengan gelar Senapati Jimbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang
Sayidin Panatagama. Untuk jabatan patih diangkat Ki Wanapala dengan gelar
Mangkurat
Kerajaan Demak
berkembang menjadi kerajaan besar, di bawah kepemimpinan Raden Patah
(1481-1518). Negeri-negeri di pantai utara Jawa yang sudah menganut Islam
mengakui kedaulatan Demak. Bahkan Kekuasaan Demak meluas ke Sukadana
(Kalimantan Selatan), Palembang, dan Jambi. Pada tahun 1512 dan 1513, di bawah
pimpinan putranya yang bernama Adipati Unus, Demak dengan kekuatan 90 buah jung
dan 12.000 tentara berusaha membebaskan Malaka dari kekuasaan Portugis dan
menguasai perdagangan di Selat Malaka. Karena pernah menyerang ke Malaka
Adipati Unus diberi gelar Pangeran Sabrang Lor (Pangeran yang pernah
menyeberang ke utara).
Setelah Raden
Patah wafat pada tahun 1518 M, Kerajaan Demak dipimpin oleh Adipati Unus
(1518-1521). Ia menjadi Sultan Demak selama tiga tahun. Kemudian ia digantikan
oleh adiknya yang bernama Sultan Trenggana (1521- 1546) melalui perebutan
takhta dengan Pangeran Sekar Sedo Lepen. Untuk memperluas daerah kekuasaannya,
Sultan Trenggana menikahkan putra-putrinya, antara lain dinikahkan dengan
Pangeran Hadiri dari Kalinyamat (Jepara) dan Pangeran Adiwijaya dari Pajang.
Sultan Trenggana berhasil meluaskan kekuasaannya ke daerah pedalaman. Ia
berhasil menaklukkan Daha (Kediri), Madiun, dan Pasuruan. Pada saat melancarkan
ekspedisi melawan Panarukan, Sultan Trenggana terbunuh. Pada masa Sultan
Trenggana, wilayah kekuasaan Kerajaan Demak sangat luas meliputi Banten,
Jayakarta, Cirebon (Jawa Barat), Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur.
Wafatnya Sultan
Trenggana (1546) menyebabkan kemunduran Kerajaan Demak. Terjadi perebutan
kekuasaan antara Pangeran Prawato (putra Sultan Trenggana) dengan Aria
Panangsang (keturunan Sekar Sedo Lepen (adik Sultan Trenggana)). Dalam
perebutan kekuasaan itu, Aria Panangsang membunuh Pangeran Prawoto dan
putranya, Pangeran Hadiri. Ratu Kalinyamat dan Aria Pangiri memohon bantuan
kepada Adiwijaya di Pajang. Dalam pertempuran itu, Adiwijaya berhasil membunuh
Aria Panangsang. Setelah itu, Adiwijaya memindahkan ibu kota Kerajaan Demak ke
Pajang pada tahun 1568. Peristiwa ini menjadi akhir dari Kerajaan Demak.
B. Kehidupan
Ekonomi
Perekonomian Demak
berkembang ke arah perdagangan maritim dan agraria. Ambisi Kerajaan Demak
menjadi negara maritim diwujudkan dengan upayanya merebut Malaka dari tangan
Portugis, namun upaya ini ternyata tidak berhasil. Perdagangan antara Demak
dengan pelabuhan-pelabuhan lain di Nusantara cukup ramai, Demak berfungsi
sebagai pelabuhan transito (penghubung) daerah penghasil rempah-rempah dan
memiliki sumber penghasilan pertanian yang cukup besar.
Demak dalam bidang
ekonomi, berperan penting karena mempunyai daerah pertanian yang cukup luas dan
sebagai penghasil bahan makanan, terutama beras. Selain itu, perdagangannya
juga maju. Komoditas yang diekspor, antara lain beras, madu, dan lilin. Barang
tersebut diekspor ke Malaka melalui Pelabuhan Jepara. Dengan demikian,
kehidupan ekonomi masyarakat berkembang lebih baik.
Sebagai negara
maritim, Demak menjalankan fungsinya sebagai penghubung atau transito antara
daerah penghasil rempah-rempah di bagian timur dengan Malaka, dan dari Malaka
kemudian dibawa para pedagang menuju kawasan Barat. Berkembangnya perekonomian
Demak di samping faktor dunia kemaritiman, juga faktor perdagangan hasil-hasil
pertanian.
C. Kehidupan Sosial-budaya
Kehidupan sosial
masyarakat Kerajaan Demak telah berjalan teratur. Pemerintahan diatur dengan
hukum Islam. Akan tetapi, norma-norma atau tradisi-tradisi lama tidak
ditinggalkan begitu saja.
Hasil kebudayaan
Kerajaan Demak merupakan kebudayaan yang berkaitan dengan Islam. Hasil
kebudayaannya yang cukup terkenal dan sampai sekarang masih tetap berdiri
adalah Masjid Agung Demak. Masjid itu merupakan lambang kebesaran Demak sebagai
kerajaan Islam. Masjid Agung Demak selain kaya dengan ukir-ukiran bercirikan
Islam juga memiliki keistimewaan, yaitu salah satu tiangnya dibuat dari
kumpulan sisa-sisa kayu bekas pembangunan masjid itu sendiri yang disatukan
(tatal).
Selain Masjid
Agung Demak, Sunan Kalijaga salah seorang dari Wali Sanga juga meletakkan dasar-dasar
perayaan Sekaten pada masa Kerajaan Demak. Perayaan itu digunakan oleh Sunan
Kalijaga untuk menarik minat masyarakat agar masuk Islam. Sekaten ini kemudian
menjadi tradisi atau kebudayaan yang terus dipelihara sampai sekarang.
Kerajaan Banten
Kerajaan Banten / Kesultanan
Banten ~ Berdirinya
kerajaan ini atas inisiatif Sunan Gunung Jati pada 1524, setelah sebelumnya
mengislamkan Cirebon. Awalnya, Banten merupakan bagian dari wilayah Pajajaran
yang Hindu, namun setelah Demak berhasil menghalau pasukan Portugis di Batavia,
Banten pun secara tak langsung berada di bawah kekuasaan Demak. Semasa Sunan
Gunung Jati, Banten masih termasuk kekuasaan Demak. Pada tahun 1552, ia pulang
ke Cirebon dan Banten diserahkan kepada anaknya, Maulana Hasanuddin. Nah, pada
kesempatan kali ini Zona Siswa akan mencoba menghadirkan penjelasan
mengenai Sejarah Kerajaan Banten dari segi politik, ekonomi, dan sosial-budaya.
A. Kehidupan
Politik
Sultan pertama
Kerajaan Banten ini adalah Sultan Hasanuddin yang memerintah tahun 1522-1570.
Ia adalah putra Fatahillah, seorang panglima tentara Demak yang pernah diutus
oleh Sultan Trenggana menguasai bandarbandar di Jawa Barat. Pada waktu Kerajaan
Demak berkuasa, daerah Banten merupakan bagian dari Kerajaan Demak. Namun
setelah Kerajaan Demak mengalami kemunduran, Banten akhirnya melepaskan diri
dari pengaruh kekuasaan Demak.
Jatuhnya Malaka ke
tangan Portugis (1511) membuat para pedagang muslim memindahkan jalur
pelayarannya melalui Selat Sunda. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin,
Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat perdagangan. Hasanuddin memperluas
kekuasaan Banten ke daerah penghasil lada, Lampung di Sumatra Selatan yang
sudah sejak lama mempunyai hubungan dengan Jawa Barat. Dengan demikian, ia
telah meletakkan dasar-dasar bagi kemakmuran Banten sebagai pelabuhan lada.
Pada tahun 1570, Sultan Hasanuddin wafat.
Penguasa Banten
selanjutnya adalah Maulana Yusuf (1570-1580), putra Hasanuddin. Di bawah
kekuasaannya Kerajaan Banten pada tahun 1579 berhasil menaklukkan dan menguasai
Kerajaan Pajajaran (Hindu). Akibatnya pendukung setia Kerajaan Pajajaran
menyingkir ke pedalaman, yaitu daerah Banten Selatan, mereka dikenal dengan
Suku Badui. Setelah Pajajaran ditaklukkan, konon kalangan elite Sunda memeluk
agama Islam.
Maulana Yusuf
digantikan oleh Maulana Muhammad (1580-1596). Pada akhir kekuasaannya, Maulana
Muhammad menyerang Kesultanan Palembang. Dalam usaha menaklukkan Palembang,
Maulana Muhammad tewas dan selanjutnya putra mahkotanya yang bernama Pangeran
Ratu naik takhta. Ia bergelar Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir. Kerajaan
Banten mencapai puncak kejayaan pada masa putra Pangeran Ratu yang bernama
Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Ia sangat menentang kekuasaan Belanda.Usaha
untuk mengalahkan orang-orang Belanda yang telah membentuk VOC serta menguasai
pelabuhan Jayakarta yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa mengalami
kegagalan. Setelah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten mulai dikuasai
oleh Belanda di bawah pemerintahan Sultan Haji.
B. Kehidupan
Ekonomi
Banten di bawah
pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa dapat berkembang menjadi bandar perdagangan
dan pusat penyebaran agama Islam. Adapun faktor-faktornya ialah: (1) letaknya
strategis dalam lalu lintas perdagangan; (2) jatuhnya Malaka ke tangan
Portugis, sehingga para pedagang Islam tidak lagi singgah di Malaka namun
langsung menuju Banten; (3) Banten mempunyai bahan ekspor penting yakni lada.
Banten yang
menjadi maju banyak dikunjungi pedagang-pedagang dari Arab, Gujarat, Persia,
Turki, Cina dan sebagainya. Di kota dagang Banten segera terbentuk
perkampungan-perkampungan menurut asal bangsa itu, seperti orang-orang Arab
mendirikan Kampung Pakojan, orang Cina mendirikan Kampung Pacinan, orang-orang
Indonesia mendirikan Kampung Banda, Kampung Jawa dan sebagainya.
C. Kehidupan
Sosial-budaya
Sejak Banten
di-Islamkan oleh Fatahilah (Faletehan) tahun 1527, kehidupan sosial masyarakat
secara berangsur- angsur mulai berlandaskan ajaran-ajaran Islam. Setelah Banten
berhasil mengalahkan Pajajaran, pengaruh Islam makin kuat di daerah pedalaman.
Pendukung kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yakni ke daerah Banten
Selatan, mereka dikenal sebagai Suku Badui. Kepercayaan mereka disebut Pasundan
Kawitan yang artinya Pasundan yang pertama. Mereka mempertahankan
tradisi-tradisi lama dan menolak pengaruh Islam
Kehidupan sosial
masyarakat Banten semasa Sultan Ageng Tirtayasa cukup baik, karena sultan
memerhatikan kehidupan dan kesejahteran rakyatnya. Namun setelah Sultan Ageng
Tirtayasa meninggal, dan adanya campur tangan Belanda dalam berbagai kehidupan
sosial masyarakat berubah merosot tajam. Seni budaya masyarakat ditemukan pada
bangunan Masjid Agung Banten (tumpang lima), dan bangunan gapura-gapura di
Kaibon Banten. Di samping itu juga bangunan istana yang dibangun oleh Jan Lukas
Cardeel, orang Belanda, pelarian dari Batavia yang telah menganut agama Islam.
Susunan istananya menyerupai istana raja di Eropa.
Kerajaan Mataram Islam
Kerajaan/Kesultanan Mataram Islam ~ Pada waktu Sultan Hadiwijaya berkuasa di
Pajang, Ki Ageng Pemanahan dilantik menjadi bupati di Mataram sebagai imbalan
atas keberhasilannya membantu menumpas Aria Penangsang. Sutawijaya, putra Ki
Ageng Pemanahan diambil anak angkat oleh Sultan Hadiwijaya. Setelah Ki Ageng
Pemanahan wafat pada tahun 1575, Sutawijaya diangkat menjadi bupati di Mataram.
Sutawijaya
ternyata tidak puas menjadi bupati dan ingin menjadi raja yang menguasai
seluruh Jawa. Oleh karena itu, Sutawijaya mulai memperkuat sistem pertahanan
Mataram. Hal itu ternyata diketahui oleh Hadiwijaya sehingga ia mengirim
pasukan untuk menyerang Mataram. Peperangan sengit terjadi pada tahun 1582.
Prajurit Pajang menderita kekalahan. Keadaan Sultan Hadiwijaya sendiri pada
saat itu sedang sakit. Beberapa waktu kemudian Sultan Hadiwijaya mangkat.
Setelah itu, terjadilah perebutan kekuasaan di antara para bangsawan Pajang.
Pangeran Pangiri (menantu Hadiwijaya yang menjabat Bupati Demak) datang
menyerbu Pajang untuk merebut takhta. Hal itu tentu saja ditentang keras oleh
para bangsawan Pajang yang bekerja sama dengan Sutawijaya, Bupati Mataram.
Akhirnya, Pangeran Pangiri beserta pengikutnya dapat dikalahkan dan diusir dari
Pajang.
Setelah suasana
aman, Pangeran Benawa (putra Hadiwijaya) menyerahkan takhtanya kepada
Sutawijaya yang kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke Mataram pada
tahun 1586. Sejak saat itu berdirilah Kerajaan Mataram. Nah, pada kesempatan
kali ini Zona Siswa akan mencoba untuk menghadirkan sebuah penjelasan
tentang Sejarah Kerajaan Mataram Islam dari segi politik, ekonomi, dan
sosial-budaya.
A. Kehidupan
Politik
Sutowijoyo
mengangkat dirinya sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senopati
(1586-1601) dengan ibukota kerajaan di Kota Gede. Tindakan-tindakan penting
yang dilakukan adalah meletakkan dasar-dasar Kerajaan Mataram dan berhasil
memperluas wilayah kekuasaan ke timur, Surabaya, Madiun dan Ponorogo, dan ke
barat menundukkan Cirebon dan Galuh.
Pengganti
Panembahan Senopati adalah Mas Jolang. Ia gugur di daerah Krapyak dalam upaya
memperluas wilayah, sehingga disebut Panembahan Seda Krapyak. Raja terbesar
Kerajaan Mataram ialah Mas Rangsang dengan gelar Sultan Agung Hanyokrokusumo
(1613-1645). Sultan bercita-cita: (1) mempersatukan seluruh Jawa di bawah
kekuasaan Mataram dan (2) mengusir kompeni (VOC) dari Batavia. Masa
pemerintahan Sultan Agung selama 32 tahun dibedakan atas dua periode, yaitu
masa penyatuan negara dan masa pembangunan. Masa penyatuan negara (1613-1629)
merupakan masa peperangan untuk mewujudkan cita-cita menyatukan seluruh Jawa.
Sultan Agung menundukkan Gresik, Surabaya, Kediri, Pasuruan dan Tuban,
selanjutnya Lasem, Pamekasan, dan Sumenep. Dengan demikian seluruh Jawa telah
tunduk di bawah Mataram, dan luar Jawa kekuasaan meluas sampai Palembang,
Sukadana (Kalimantan), dan Goa.
Setelah Jawa
Timur, Jawa Tengah, dan Cirebon berhasil dikuasai, Sultan Agung merencanakan
untuk menyerang Batavia. Serangan pertama dilancarkan pada bulan Agustus 1628
di bawah pimpinan Bupati Baurekso dari Kendal dan Dipati Ukur dari Sumedang.
Batavia dikepung dari darat dan laut selama 2 bulan, namun tidak mau menyerah
bahkan sebaliknya akhirnya tentara Mataram terpukul mundur. Dipersiapkan
serangan yang kedua dan dipersiapkan lebih matang dengan membuat pusat-pusat
perbekalan makanan di Tegal, Cirebon dan Krawang serta dipersiapkan angkatan
laut. Serangan kedua dilancarkan bulan September 1629 di bawah pimpinan Sura
Agul-Agul, Mandurarejo, dan Uposonto. Namun nampaknya VOC telah mengetahui
lebih dahulu rencana tersebut, sehingga VOC membakar dan memusnahkan
gudang-gudang perbekalan. Serangan ke Batavia mengalami kegagalan, karena
kurangnya perbekalan makanan, kalah persenjataan, jarak Mataram–Jakarta sangat
jauh, dan tentara Mataram terjangkit wabah penyakit
Setelah Sultan
Agung meninggal, penetrasi politik VOC di Mataram makin kuat. Akibat campur
tangan VOC dan adanya perang saudara dalam memperebutkan takhta pemerintahan
menjadikan kerajaan Mataram lemah dan akhirnya terpecah-pecah menjadi kerajaan
kecil.
Perseturuan antara
Paku Buwono II yang dibantu Kompeni dengan Pangeran Mangkubumi dapat diakhiri
dengan Perjanjian Giyanti tanggal 13 Februari 1755 yang isinya Mataram dipecah
menjadi dua, yakni:
1. Mataram Barat yakni
KesultananYogakarta, diberikan kepada Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengku
Buwono I.
2. Mataram Timur yakni Kasunanan Surakarta
diberikan kepada Paku Buwono III.
Selanjutnya untuk
memadamkan perlawanan Raden Mas Said diadakan Perjanjian Salatiga, tanggal 17
Maret 1757, yang isinya Surakarta dibagi menjadi dua, yakni:
1. Surakarta Utara diberikan kepada Mas
Said dengan gelar Mangkunegoro I, kerajaannya dinamakan Mangkunegaran.
2. Surakarta Selatan diberikan kepada Paku
Buwono III kerajaannya dinamakan Kasunanan Surakarta.
Pada tahun 1813
sebagian daerah Kesultanan Yogyakarta diberikan kepada Paku Alam selaku
Adipati. Dengan demikian kerajaan Mataram yang satu, kuat dan kokoh pada masa
pemerintahan Sultan Agung akhirnya terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan
kecil, yakni:
1. Kerajaan Yogyakarta
2. Kasunanan Surakarta
3. Pakualaman
4. Mangkunegaran
B. Kehidupan Ekonomi
Letak geografisnya
yang berada di pedalaman didukung tanah yang subur, menjadikan kerajaan Mataram
sebagai daerah pertanian (agraris) yang cukup berkembang, bahkan menjadi daerah
pengekspor beras terbesar pada masa itu. Rakyat Mataram juga banyak melakukan
aktivitas perdagangan laut. Hal ini dapat terlihat dari dikuasainya
daerah-daerah pelabuhan di sepanjang pantai Utara Jawa. Perpaduan dua unsur
ekonomi, yaitu agraris dan maritim mampu menjadikan kerajaan Mataram kuat dalam
percaturan politik di nusantara.
C. Kehidupan Sosial-budaya
Pada masa
pertumbuhan dan berkaitan dengan masa pembangunan,maka Sultan Agung melakukan
usaha-usaha antara lain untuk meningkatkan daerahdaerah persawahan dan
memindahkan banyak para petani ke daerah Krawang yang subur. Atas dasar
kehidupan agraris itulah disusun suatu masyarakat yang bersifat feodal. Para
pejabat pemerintahan memperoleh imbalan berupa tanah garapan (lungguh),
sehingga sistem kehidupan ini menjadi dasar munculnya tuan-tuan tanah di Jawa.
Pada masa
kebesaran Mataram, kebudayaan juga berkembang antara lain seni tari, seni
pahat, seni sastra dan sebagainya. Di samping itu muncul Kebudayaan Kejawen
yang merupakan akulturasi antara kebudayan asli, Hindu, Buddha dengan Islam.
Upacara Grebeg yang bersumber pada pemujaan roh nenek moyang berupa kenduri
gunungan yang merupakan tradisi sejak zaman Majapahit dijatuhkan pada waktu
perayaan hari besar Islam, sehingga muncul Grebeg Syawal pada hari raya idul
Fitri.; Grebeg Maulud pada bulan Rabiulawal. Hitungan tahun yang sebelumnya
merupakan tarikh Hindu yang didasarkan pada peredaran matahari (tarikh Samsiah)
dan sejak tahun 1633 diubah menjadi tarikh Islam yang berdasarkan pada
peredaran bulan (tarikh Kamariah). Tahun Hindu 1555 diteruskan dengan
perhitungan baru dan dikenal dengan Tahun Jawa.
Adanya suasana
yang aman, damai dan tenteram, maka berkembang juga Kesusastraan Jawa. Sultan
Agung sendiri mengarang Kitab Sastra Gending yang berupa kitab filsafat.
Demikian juga muncul kitab Nitisruti, Nitisastra, dan Astabrata yang berisi
ajaran tabiat baik yang bersumber pada kitab Ramayana.
Kerajaan Gowa dan Tallo
Kondisi
Kehidupan Politik, Ekonomi, Sosial-Budaya dan Pendidikan di kerajaan Gowa –
Tallo
Kehidupan politik
Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan
dilakukan oleh Datuk Robandang/Dato’ Ri Bandang dari Sumatera, sehingga pada
abad 17 agama Islam berkembang pesat di Sulawesi Selatan, bahkan raja Makassar
pun memeluk agama Islam.
Raja Makassar yang pertama memeluk
agama Islam adalah Karaeng Ma’towaya Tumamenanga Ri Agamanna (Raja Gowa) yang
bergelar Sultan Alaudin yang memerintah Makassar tahun 1591 – 1638 dan dibantu
oleh Daeng Manrabia (Raja Tallo) bergelar Sultan Abdullah. Sejak pemerintahan
Sultan Alaudin kerajaan Makassar berkembang sebagai kerajaan maritim dan
berkembang pesat pada masa pemerintahan raja Muhammad Said (1639 – 1653).
Selanjutnya kerajaan Makassar mencapai
puncak kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653 – 1669).
Pada masa pemerintahannya Makassar berhasil memperluas wilayah kekuasaannya
yaitu dengan menguasai daerah-daerah yang subur serta daerah-daerah yang dapat
menunjang keperluan perdagangan Makassar. Ia berhasil menguasai Ruwu, Wajo,
Soppeng, dan Bone.Perluasan daerah Makassar tersebut sampai ke Nusa Tenggara
Barat.
Daerah kekuasaan Makassar luas, seluruh
jalur perdagangan di Indonesia Timur dapat dikuasainya. Sultan Hasannudin
terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada dominasi asing. Oleh karena itu
ia menentang kehadiran dan monopoli yang dipaksakan oleh VOC yang telah
berkuasa di Ambon. Untuk itu hubungan antara Batavia (pusat kekuasaan VOC di
Hindia Timur) dan Ambon terhalangi oleh adanya kerajaan Makassar. Dengan
kondisi tersebut maka timbul pertentangan antara Sultan Hasannudin dengan VOC,
bahkan menyebabkan terjadinya peperangan. Peperangan tersebut terjadi di daerah
Maluku.
Dalam peperangan melawan VOC, Sultan
Hasannudin memimpin sendiri pasukannya untuk memporak-porandakan pasukan
Belanda di Maluku. Akibatnya kedudukan Belanda semakin terdesak. Atas
keberanian Sultan Hasannudin tersebut maka Belanda memberikan julukan padanya
sebagai Ayam Jantan dari Timur. Upaya Belanda untuk mengakhiri peperangan
dengan Makassar yaitu dengan melakukan politik adu-domba antara Makassar dengan
kerajaan Bone (daerah kekuasaan Makassar). Raja Bone yaitu Aru Palaka yang
merasa dijajah oleh Makassar mengadakan persetujuan kepada VOC untuk melepaskan
diri dari kekuasaan Makassar. Sebagai akibatnya Aru Palaka bersekutu dengan VOC
untuk menghancurkan Makassar.
Akibat persekutuan
tersebut akhirnya Belanda dapat menguasai ibukota kerajaan Makassar. Dan secara
terpaksa kerajaan Makassar harus mengakui kekalahannya dan menandatangai
perjanjian Bongaya tahun 1667 yang isinya tentu sangat merugikan kerajaanMakassar.Isi dari perjanjian Bongaya antara lain:
·
VOC memperoleh hak
monopoli perdagangan di Makassar.
·
Belanda dapat
mendirikan benteng di Makassar.
·
Makassar harus
melepaskan daerah-daerah jajahannya seperti Bone dan pulau-pulau di luar
Makassar.
·
Aru Palaka diakui
sebagai raja Bone.
Walaupun perjanjian telah diadakan,
tetapi perlawanan Makassar terhadap Belanda tetap berlangsung. Bahkan pengganti
dari Sultan Hasannudin yaitu Mapasomba (putra Hasannudin) meneruskan perlawanan
melawan Belanda.
Untuk menghadapi perlawanan rakyat
Makassar, Belanda mengerahkan pasukannya secara besar-besaran. Akhirnya Belanda
dapat menguasai sepenuhnya kerajaan Makassar, dan Makassar mengalami kehancurannya.
Kehidupan
ekonomi
Kerajaan Makassar merupakan kerajaan
Maritim dan berkembang sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur. Hal
ini ditunjang oleh beberapa faktor:
·
Letakyang
strategis,
·
Memilikipelabuhan
yang baik
·
JatuhnyaMalaka ke
tangan Portugis tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagang- pedagang yang
pindah ke Indonesia Timur.
Sebagai pusat perdagangan Makassar
berkembang sebagai pelabuhan internasional dan banyak disinggahi oleh
pedagang-pedagang asing seperti Portugis, Inggris, Denmark dan sebagainya yang
datang untuk berdagang di Makassar.
Pelayaran dan
perdagangan di Makassar diatur berdasarkan hukum niaga yang disebut
dengan ADE’ ALOPING LOPING BICARANNA PABBALUE,
sehingga dengan adanya hukum niaga tersebut, maka perdagangan di Makassar
menjadi teratur dan mengalami perkembangan yang pesat.
Selain perdagangan, Makassar juga
mengembangkan kegiatan pertanian karena Makassar juga menguasai daerah-daerah
yang subur di bagian Timur Sulawesi Selatan.Faktor-faktor penyebab Kerajaan
Gowa Tallo berkembang menjadi pusat perdagangan adalah sebagai berikut:
·
Letaknya strategis
yaitu sebagai penghubung pelayaran Malaka dan Jawa ke Maluku.
·
Letaknya di muara
sungai, sehingga lalu lintas perdagangan antar daerah pedalaman berjalan dengan
baik.
·
Di depan pelabuhan
terdapat gugusan pulau kecil yang berguna untuk menahan gelombang dan angin,
sehingga keamanan berlabuh di pelabuhan ini terjamin.
·
Jatuhnya Malaka ke
tangan Portugis mendorong para pedagang mencari daerah atau pelabuhan yang
menjual belikan rempah-rempah.
·
Halauan politik
Mataram sebagai kerajaan agraris ternyata kurang memperhatikan pemngembangan
pelabuhan-pelabuhan di Jawa. Akibatnya dapat diambil alih oleh Makassar.
·
Kemahiran penduduk
Makassar dalam bidang pelayaran dan pembuatan kapal besar jenis Phinisi dan
Lambo.
Aspek
Sosial – Budaya
Sebagai negara Maritim, maka sebagian
besar masyarakat Makassar adalah nelayan dan pedagang. Mereka giat berusaha
untuk meningkatkan taraf kehidupannya, bahkan tidak jarang dari mereka yang
merantau untuk menambah kemakmuran hidupnya.
Walaupun masyarakat Makassar memiliki
kebebasan untuk berusaha dalam mencapai kesejahteraan hidupnya, tetapi dalam
kehidupannya mereka sangat terikat dengan norma adat yang mereka anggap sakral.
Norma kehidupan masyarakat Makassar diatur berdasarkan adat dan agama Islam
yang disebut PANGADAKKANG. Dan masyarakat Makassar sangat percaya terhadap
norma-norma tersebut.
Di samping norma tersebut, masyarakat
Makassar juga mengenal pelapisan sosial yang terdiri dari lapisan atas yang
merupakan golongan bangsawan dan keluarganya disebut dengan
“Anakarung/Karaeng”, sedangkan rakyat kebanyakan disebut “to Maradeka” dan
masyarakat lapisan bawah yaitu para hamba-sahaya disebut dengan golongan “Ata”.
Dari segi kebudayaan, maka masyarakat
Makassar banyak menghasilkan benda-benda budaya yang berkaitan dengan dunia
pelayaran. Mereka terkenal sebagai pembuat kapal. Jenis kapal yang dibuat oleh
orang Makassar dikenal dengan nama Pinisi dan Lombo.
Aspek
Pendidikan
Pada masa pemerintahan raja Gowa ke-15
(1637-1653) Sultan Malikussaid (I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiung),
tiap-tiap negeri (bate) memiliki mesjid dan di tiap-tiap kampung memiliki
langgara’ (langgar). Selain dipergunakan untuk shalat, mesjid dan langgar juga
digunakan sebagai tempat pengajian agama bagi anak-anak muda di tempat itu.
Guru yang mengajarkan Alquran dan ilmu-ilmu Islam lainnya disebut
anrong-gurunta atau gurunta. (Mattulada, 1995: 29).
Selain itu, penulisan dan penyalinan
buku-buku agama Islam dari bahasa Melayu ke bahasa Makassar (lontara) giat
dilaksanakan. Berbagai lontara yang asalnya dari bahasa Melayu diduga berasal
dari zaman permulaan perkembangan Islam di Sulawesi Selatan (abad ke-17 dan
18), sampai sekarang masih populer di kalangan orang tua-tua Bugis-Makassar.
Lontara yang dimaksud antara lain:
·
Lontara perkawinan
antara Sayidina Ali dengan Fatima, putri Rasululullah,
·
Lontara Nabi Yusuf
dan percintaan Laila dan Majnun,
·
Sura’ bukkuru yang
dalam bahasa Bugis dikenal dengan lontara pau-paunna Sultanul Injilai,
·
Budi Istihara,
·
Kitta faraid
(Kitab Hukum Pewarisan),
·
Kitta Nika (Kitab
Hukum Perkawinan),
·
Lontara’na Sehe
Maradang,
·
Lontara tentang
peperangan Nabi Muhammad dengan raja Hindi,
·
Berbagai mukjizat
Nabi Muhammad,
·
Lontara tentang
wewenang kali (kadhi) menurut sara’ dan banyak yang lain (Mattulada, 1995: 28).
Kerajaan Ternate dan Tidore
A.
Sejarah Kerajaan Ternate dan Tidore
Sejarah Kerajaan Ternate dan Tidore - Masuknya Islam ke Maluku erat
kaitannya dengan kegiatan perdagangan. Pada abad ke-15, para pedagang dan ulama
dari Malaka dan Jawa menyebarkan Islam ke sana. Dari sini muncul empat kerajaan
Islam di Maluku yang disebut Maluku Kie Raha (Maluku Empat Raja) yaitu
Kesultanan Ternate yang dipimpin Sultan Zainal Abidin (1486-1500), Kesultanan
Tidore yang dipimpin oleh Sultan Mansur, Kesultanan Jailolo yang dipimpin oleh
Sultan Sarajati, dan Kesultanan Bacan yang dipimpin oleh Sultan Kaicil Buko.
Pada masa kesultanan itu berkuasa, masyarakat muslim di Maluku sudah menyebar
sampai ke Banda, Hitu, Haruku, Makyan, dan Halmahera.
Di Maluku
yang terletak di antara Sulawesi dan Papua terdapat dua kerajaan, yakni Ternate
dan Tidore. Kedua kerajaan ini terletak di sebelah barat Pulau Halmahera di
Maluku Utara. Kedua kerajaan itu pusatnya masing-masing di Pulau Ternate dan
Tidore, tetapi wilayah kekuasaannya mencakup sejumlah pulau di Kepulauan Maluku
dan Papua.Kerajaan Ternate sebagai pemimpin Persekutuan Uli Lima, yaitu persekutuan
lima bersaudara dengan wilayahnya mencakup pulau-pulau Ternate, Obi, Bacan,
Seram dan Ambon. Kerajaan Tidore sebagai pemimpin Persekutuan Uli Siwa
(persekutuan sembilan saudara) wilayahnya meliputi pulau-pulau Makyan, Jailolo
atau Halmahera, dan pulau-pulau di daerah itu sampai dengan Papua Barat. Di
antara keduanya saling terjadi persaingan dan makin tampak setelah datangnya
bangsa Barat.
Istana
Sultan Ternate
|
Bangsa Barat
yang pertama kali datang di Maluku ialah Portugis (1512) yang bersekutu dengan
Kerajaan Ternate. Jejak ini diikuti oleh bangsa Spanyol yang berhasil mendarat
di Maluku 1521 dan mengadakan persekutuan dengan Kerajaan Tidore. Dua kekuatan
telah berhadapan, namun belum terjadi pecah perang.
Untuk menyelesaikan persaingan antara Portugis dan Spanyol maka pada tahun 1529 diadakan Perjanjian Saragosa yang isinya bangsa Spanyol harus meninggalkan Maluku dan memusatkan kekuasaannya di Filipina dan bangsa Portugis tetap tinggal Maluku.
Untuk menyelesaikan persaingan antara Portugis dan Spanyol maka pada tahun 1529 diadakan Perjanjian Saragosa yang isinya bangsa Spanyol harus meninggalkan Maluku dan memusatkan kekuasaannya di Filipina dan bangsa Portugis tetap tinggal Maluku.
Untuk
memperkuat kedudukannya di Maluku maka Portugis mendirikan Benteng Sao Paulo.
Menurut Portugis benteng ini dibangun untuk melindungi Ternate dari serangan
Tidore. Tindakan Portugis di Maluku makin merajalela dengan memonopoli
perdagangan dan terlalu ikut campur tangan dalam urusan dalam negeri Ternate
sehingga menimbulkan pertentangan.
Salah
seorang Sultan Ternate yang menentang ialah Sultan Hairun (1550–1570). Untuk
menyelesaikan pertentangan itu diadakan perundingan antara Ternate (Sultan
Hairun) dan Portugis (Gubernur Lopez de Mesquita). Perdamaian dapat dicapai
pada tanggal 27 Februari 1570. Namun, perundingan persahabatan itu hanyalah
tipuan belaka. Pada pagi harinya (28 Februari) ketika Sultan Hairun berkunjung
ke Benteng Sao Paulo, ia ditangkap dan dibunuh.
Atas
kematian Sultan Hairun, rakyat Ternate bangkit menentang bangsa Portugis di
bawah pimpinan Sultan Baabullah (putra dan pengganti Sultan Hairun). Setelah
terkepung hampir selama lima tahun, Benteng Sao Paulo berhasil diduduki rakyat
Ternate (1575). Orang-orang Portugis yang menyerah tidak dibunuh, tetapi harus
meninggalkan Ternate. Mereka pun pindah ke Ambon, Maluku.
Sultan
Baabullah dapat meluaskan daerah kekuasaannya di Maluku. Daerah kekuasaannya
terbentang antara Sulawesi dan Papua; ke arah timur sampai Papua; barat sampai
ke Pulau Buton; utara sampai ke Mindanao Selatan (Filipina); selatan sampai ke
Pulau Bima (Nusa Tenggara) sehingga ia mendapat julukan Tuan dari Tujuh Pulau
Dua Pulau.
Pada abad
ke-17, bangsa Belanda datang di Maluku dan segera terjadi persaingan antara Belanda
dan Portugis. Belanda akhirnya berhasil menduduki benteng Portugis di Ambon dan
dapat mengusir Portugis dari Maluku (1605). Belanda yang tampa ada saingan
kemudian juga melakukan tindakan yang sewenang-wenang, seperti berikut ini.
1)
Melaksanakan sistem penyerahan wajib sebagian hasil bumi (rempahrempah) kepada
VOC (contingenten).
2) Adanya
perintah penebangan/pemusnahan tanaman rempah-rempah jika harga rempah-rempah
di pasaran turun (hak ekstirpasi) dan penanaman kembali secara serentak apabila
harga rempah-rempah di pasaran naik/meningkat.
3)
Mengadakan pelayaran Hongi (patroli laut), yakni sistem perondaan yang
dilakukan oleh VOC dengan tujuan untuk mencegah timbulnya perdagangan gelap dan
mengawasi pelaksanaan monopoli perdagangan di seluruh Maluku.
Tindakan-tindakan
penindasan tersebut jelas membuat rakyat hidup terkenan dan menderita. Sebagai
reaksinya rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata melawan VOC. Pada tahun
1635–1646 rakyat di Kepulauan Hitu bangkit melawan VOC di bawah pimpinan Kakiali
dan dilanjutkan oleh Telukabesi. Pada tahun 1650 rakyat Ambon dipimpin oleh
Saidi melakukan perlawanan terhadap VOC. Demikian juga di daerah lain, seperti
Seram, Haruku, dan Saparua juga terjadi perlawanan rakyat, tetapi semua
perlawanan berhasil dipadamkan oleh VOC.
Masjid
Ternate.
|
Sampai akhir
abad ke-17 tidak ada lagi perlawanan besar, tetapi pada akhir abad ke-18 muncul
lagi perlawanan besar yang mengguncangkan kekuasaan VOC di Maluku. Jika melawan
Portugis Kasultanan dan rakyat Ternate yanga memegang peranan penting maka
untuk melawan VOCsebaliknya, kasultanan dan rakyat Tidore yang memimpinnya.
Pada tahun 1780 rakyat Tidore bangkit melawan VOC di bawah pimpinan Sultan
Nuku.
Selanjutnya,
Sultan Nuku juga berhasil menyatukan Ternate dengan Tidore. Setelah Sultan Nuku
meninggal (1805), tidak ada lagi perlawaan yang kuat menentang VOC, maka
mulailah VOC memperkokoh kekuasaannya kembali di Maluku. Perlawanan yang lebih
dahsyat di Maluku baru muncul pada permulaan abad ke-19 di bawah pimpinan Pattimura.
Kehidupan
rakyat Maluku yang utama adalah pertanian dan perdagangan. Tanah di Kepulauan
Maluku sangat subur dengan hasil utamanya cengkih dan pala. Keduanya merupakan
rempah-rempah yang sangat diperlukan untuk ramuan obat-obatan dan bumbu masak
karena mengandung bahan pemanas. Oleh karena itu, rempah-rempah banyak
diperlukan di daerah dingin, seperti di Eropa. Dengan hasil rempah-rempahnya
maka aktivitas pertanian dan perdagangan rakyat Maluku maju dengan pesat.
Kedatangan Portugis
di Maluku tidak hanya untuk berdagang dan mendapatkan rempah-rempah,
tetapiPortugis juga menyebarkan agama Katolik. Pada tahun 1534 missionaris
Katolik, Fransiscus Xaverius telah berhasil menyebarkan agama Katolik di
Halmahera, Ternate, dan Ambon. Telah kita ketahui bahwa sebelumnya di Maluku
telah berkembang agama Islam. Dengan demikian, kehidupan agama telah mewarnai
kehidupan sosial masyarakat Maluku.
Rakyat
Maluku aktivitas banyak tercurah pada perekonomian sehingga sedikit
menghasilkan budaya. Salah satu karya seni bangun yang terkenal ialah
Istana Sultan Ternate dan masjid kuno di Ternate.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar